Ngabuburit Orang Bertakwa


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, budaya ngabuburit alias menghabiskan waktu menanti berbuka puasa bagi sebagian masyarakat khususnya kawula muda Muslim Indonesia tampaknya lekat dengan musik, hura-hura, dan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan Ramadhan.

Pertanyaan saya, bagaimanakah ngabuburit-nya orang yang bertakwa di bulan suci Ramadhan ini? Jazakallah.

Farid, Bandung

Jawaban :

Menjadi perhatian orang bertakwa menjelang berbuka puasa adalah mengevaluasi diri dengan penuh cemas, jangan-jangan puasa hari ini hanya mendapat lapar dan haus belaka. Karenanya, dengan penuh ketundukan hati dan kerap kali mereka meneteskan air mata berharap ampunan atas kekhilafan hari ini serta memohon ditutupi kelalaian diri sepanjang hari ini. Mereka mengemis dan merengek kepada Allah berharap terkabulnya semua ibadah hari ini terutama shaum mereka.

Saat menjelang berbuka adalah saat terkabulnya / mustajab semua doa-doa. Karenanya, mereka mencari ruang suci ke masjid atau mushalla atau kumpul bersama keluarga dan kolega untuk beribadah dan saling mengingatkan untuk kembali pada Allah, bukan musik dan hura-hura yang mereka kerjakan. Selain berdoa, mereka juga sibuk memberikan dan melayani orang yang berbuka dengan berharap limpahan ampunan dan kasih sayang Allah. Mereka sungguh-sungguh mengawal puasanya bukan hanya saat berbuka tapi juga hingga malam dan pertengahan bahkan akhir malam.

Ada dua kebahagiaan yang mengalir di dalam jiwa orang bertakwa saat menjelang berbuka puasa. Pertama,  rasa syukur dan bahagia berada di hadapan rezeki Allah dalam bentuk makanan berbuka, karena sebentar lagi rasa lapar akan sirna dan urat-urat tenggorokan akan terbasuh air pelepas dahaga. Sambil mengingat saudara mereka yang kelaparan dan kehausan karena tak memiliki cukup makanan untuk sekeluarga, kekurangan gizi dan kesakitan.

Kedua, puncak kebahagiaan mereka adalah balasan pahala dari Allah atas ibadah shaum mereka. Mereka sangat berbahagia, setelah menahan lapar dan haus karena Allah serta menjaga dari semua yang membatalkan puasa. Suasana itu membuat jiwa mereka merasakan kebahagiaan  perjumpaan dengan Allah. Hal ini yang membuat mereka jauh dari hura-hura dan aktivitas tak bermakna saat ngabuburit.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 13 Agustus 2011/13 Ramadhan 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Ngabuburit Orang Bertakwa

  1. Pingback: Ngabuburit « Islam 4 All

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s