Waris Perempuan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya mau bertanya tentang pembagian waris seorang perempuan yang wafat dan meninggalkan suami dan satu saudara perempuan saja yang masih hidup sedangkan saudaranya yang lain sudah meninggal. Apakah keponakan dari saudaranya yang sudah meninggal juga berhak atau yang berhak hanya saudaranya yang masih hidup saja? Terima kasih atas perhatiannya.

Ummu Yusuf

Jawaban:

Urutan ahli waris pada kelompok al-hawasyi ( kelompok saudara dan keponakan ) adalah saudara laki-laki sekandung, saudara perempuan sekandung, saudara laki-laki seayah, saudara perempuan seayah, saudara laki-laki seibu, saudara perempuan seibu, keponakan laki-laki sekandung ( anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung ) dan keponakan laki-laki seayah   ( anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah ).

Dalam kasus ini tidak dijelaskan status saudara perempuan, apakah saudara perempuan sekandung? Ataukah seayah? Ataukah seibu? Karena, masing-masing memiliki bagiannya. Begitu pun status  keponakan, apakah laki-laki ataukah perempuan? Dan, apakah keponakan dari saudara laki-laki atau dari saudara perempuan?

Misalkan, saudara perempuan yang dimaksud adalah saudara perempuan sekandung dan  keponakan yang dimaksud adalah keponakan laki-laki sekandung ( anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung ). Maka, rinciannya adalah, suami mendapatkan ½ bagian karena almarhumah tidak meninggalkan keturunan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah  an-Nisa:12 yang artinya, “Dan bagimu ( suami-suami ) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istiri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak.”

Sementara, saudara perempuan kandung mendapatkan ½ bagian, sebagaimana  firman Allah dalam Surah an-Nisa: 176, yang artinya, “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah ( yaitu ) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan ia mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya.”  Yang dimaksud dengan kalalah adalah ‘la walad wala waalid’ ( tidak ada anak dan juga tidak ada orang tua ).

Keponakan laki-laki sekandung mendapatkan ‘ashobah, tapi dalam kasus ini tidak ada sisa sama sekali karena telah habis oleh suami dan saudara perempuan sekandung. Meskipun demikian, kepada ahli waris dianjurkan untuk berbuat ihsan ( kebaikan ) kepada ahli waris lainnya yang tidak mendapatkan bagian.

Ini terkait dengan firman Allah dalam surat an-Nisa: 8, yang artinya, “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu  ( sekadarnya ) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” Yang dimaksud kerabat dalam ayat ini adalah kerabat yang tidak mendapatkan hak waris. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 8 Agustus  2011 / 8 Ramadhan 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s