Takwa Shaum


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kata takwa adalah kata universal untuk semua jenis kebajikan, tentu ada perbedaan capaian ( output ) takwa dari masing-masing ibadah. Capaian takwa shalat tentu berbeda dengan capaian takwa zakat. Pertanyaan saya, takwa yang bagaimana yang diharapkan menjadi capaian dari ibadah shaum kita? Terima kasih.

Harun, Semarang

Jawaban :

Kata takwa memang sebuah kata universal. Berkaitan dengan shaum, ada dua konotasi kata takwa yang kita jadikan acuan untuk capaian ( output ) ibadah shaum.

1. Takwa yang berarti ‘wiqayah’ ( perlindungan ). Capaian shaum dari akar kata ini adalah kemampuan melindungi diri dari yang menyebabkan tertimpa murka dan siksa Allah lewat pengen dalian emosi dan syahwat, sebagaimana digambarkan dalam hadis berikut. Rasulullah SAW bersabda: “Shaum itu benteng, ( orang yang melaksanakannya ) janganlah berbuat kotor ( rafats ) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, katakanlah aku sedang shaum ( ia mengulang ucapannya dua kali ). Dan, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah ta’ala dari pada harumnya minyak misik karena dia meninggalkan makanannya, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa. ( HR Bukhari ).

2. Takwa yang mengarahkan amal untuk berorientasi akhirat. Capaian shaum dari kata ini adalah kemampuan diri untuk lebih memprioritaskan amalan yang menguntungkannya di akhirat daripada dunia. Obsesi orang yang bertakwa di bulan Ramadhan ini adalah selalu berupaya untuk melakukan amalan yang mendatangkan ampunan dosa-dosa dan beraktivitas yang menyebabkan turunnya rahmat Allah SWT serta berjuang dengan amalan yang membebaskan diri dari siksa neraka. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 6 Agustus  2011 /  6 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s