Tak Puasa karena Menyusui


Oleh : KH Achmad Satori Ismail

Mau tanya Pak Ustadz, kebetulan tahun ini saya tidak dapat menjalankan ibadah puasa lagi karena kondisi menyusui. Rencananya, saya mau membayar fidyah dengan beras. Karena kebetulan punya sawah. Tapi, berapa jumlahnya? Apakah harus dengan uang pula?
Trims Pak Ustadz.

Nurakhmayani Rusdiana di Jakarta

Jawaban:
Orang yang sedang menyusui kalau kuat untuk puasa, wajib menunaikannya. Tetapi, bila berpuasa khawatir akan membahayakan anak atau dirinya atau keduanya, dibolehkan untuk berbuka dan wajib menqadha. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah meringankan puasa dan shalat ( dengan qashar ) atas musafir, dan meringankan puasa atas wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR Imam yang lima, Ahmad dan Ashbussunan).

Atas dasar ini, wanita hamil atau menyusui yang khawatir akan membahayakan dirinya atau anaknya bila berpuasa, dibolehkan untuk berbuka. Nanti bisa mengqadhanya, atau membayar fidyah. Ibnu Abbas dan Ibnu Umar mewajibkan fidyah saja tanpa qadha. Pengikut mazhab Hanafi mewajibkan qadha saja tanpa fidyah.

Sedangkan pengikut mazhab Syafii dan Hambali mewajibkan qadha dan fidyah bila khawatir membahayakan pada anak. Bila khwatir akan membahayakan keduanya, wajib qadha saja tanpa wajib fidyah ( Lihat Nailul Awthar juz IV hlm 243-245 ).

Adapun mengenai kadar fidyah itu adalah satu mud ( makanan pokok setempat ) untuk satu hari. Satu mud sama dengan 675 gram, atau yang mencukupi dua kali makan satu orang. Boleh juga dibayarkan berupa uang, dihargai sesuai harga pasar setempat. Karena wajarnya makan itu lengkap dengan lauk-pauk, ya harus sekalian dengan lauk-pauk sesuai dengan kualitas yang biasa Anda makan. Wallahu a’lam.

Sumber : Konsultasi Puasa, Republika, Sabtu, 6 Agustus  2011  / 6 Ramadhan 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Achmad Satori Ismail, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tak Puasa karena Menyusui

  1. wafi says:

    kenapa dasarnya bukan kitab dan disempurnakan dengan lafadhnya saja gan?
    kalau cuma gini entar yg ikut bkn tabi’ lg entar,tp muqallid dong

    —————————————–

    Blog ini hanya menyajikan tanya jawab dengan beberapa narasumber. Pertanyaan Nurakhmayani di atas ditujukan kepada Prof. Satori, Ketua Umum PP IKADI ( Ikatan Da’i Indonesia ), dan beliau menjawabnya secara singkat sebagaimana terbaca di atas.

    Para pambaca akan senang sekali bila Anda memberikan jawaban yang lebih lengkap di sini atas pertanyaan di atas. Blog ini selalu berusaha mencari jawaban tentang suatu masalah dari beberapa narasumber untuk lebih bisa memperluas pemahaman tentang hal tersebut.

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s