Tidurnya Orang Puasa Bukan Ibadah


Oleh : KH. A. Cholil Ridwan

Pak Kiyai, dalam khutbah Jum’at di sebuah Masjid yang berada di Kawasan Kalibata, seorang Khotib menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Beliau mengatakan ( tanpa menyebut teks hadits yang dimaksud ) bahwa tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah, sementara diamnya adalah dzikir. Apa itu benar ? Syukran

Pak Nur, Kalibata, Jakarta Selatan

Jawaban:

Memang ada beberapa hadits populer seputar Ramadhan yang sering dibacakan oleh pada da’i, khotib dan penceramah. Mereka bermaksud untuk memotivasi kaum Muslimin untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berkaitan dengan persoalan yang Bapak tanyakan juga demikian. Ungkapan “tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah” itu sudah demikian luas diketahui oleh banyak orang dan disampaikan secara terus-menerus setiap menyambut Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan.

Betapa pentingnya mengenai permasalahan ini membuat seorang ulama ahli hadits Indonesia, KH. Ali Mustafa Yaqub menulis secara khusus sebuah buku yang berjudul ”Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan”. Setelah dilakukan pengkajian ternyata hadits yang mengungkapkan hal itu bukanlah hadits yang tercantum dalam kitab-kitab hadits populer. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Al Baihaki dalam Kitab Syu’ab al Iman, kemudian dinukil oleh Imam As Suyuti dalam kitab Al Jami’ al Saghir.

Bunyi hadits itu adalah: ”Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni” ( Jami’ Al Saghir, karya Imam As Suyuti, juz II / 678 )

Menurut Imam Al Baihaki, di dalam sanad hadits itu terdapat nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang dha’if dan Sulaiman bin Amr al Nakha’i, seorang rawi yang lebih dhaif dari pada Ma’ruf. Bahkan menurut Al Hafizh Al Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikianlah perkataan Imam Al Baihaki sebagaimana dikutip oleh Al Minawi dalam Kitab Faidhul Qadir Juz VI/291.

Al Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat dalam sanad hadis di atas, yaitu Abdul Malik bin Umair, seorang yang dinilai sangat dha’if. Rawi yang paling parah adalah Sulaiman bin Amr al Nakha’i, karena menurut para ahli hadits dia adalah pendusta dan pemalsu hadits. Demikian merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari dan Yazid bin Harun. ( lihat Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, hal. 42 )

Sementara itu menurut Ibnu Hibban, Sulaiman bin Amr al Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah adalah orang shalih tetapi ia memalsu hadits. Imam Al Hakim yakin secara pasti bahwa Sulaiman Al Nakha’i adalah pemalsu hadits. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa status hadits di atas adalah palsu ( mawdhu’ ). Hadits palsu jelas tidak bisa dijadikan sebagai hujah ( dalil ).

Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah Saw.

Tingkatkan Amal Ibadah

Bagi setiap Muslim, Ramadhan adalah bulan ibadah. Bulan yang didalamnya diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, membaca Al Qur’an, bersedekah, iti’kaf pada sepuluh hari terakhirnya. Berbagai amal-amal ketaatan diperintahkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini sebagai sebab untuk mendapatkan surga Allah yang pintu-pintunya dibuka khusus di bulan ini dan hendaklah menjauhi berbagai pelanggaran dan kemaksiatan yang dapat mendorongnya kedalam neraka.

Untuk itu hendaklah setiap Muslim bersabar di dalam melaksanakan amal-amal tersebut menjadikan waktu-waktunya penuh dengannya dan menyedikitkan waktu tidurnya. Tidaklah dibenarkan seorang yang berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini tidaklah diharamkan selama dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat pada waktu-waktunya.

Tidaklah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diraih oleh orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja karena dirinya telah kehilangan banyak kesempatan beribadah. Jadi jangan sia-siakan waktu kita di bulan Ramadhan hanya dengan memperbanyak tidur.  Allahuma Balighna Ramadhan…  

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi  95 ,  6 – 20 Agustus 2010  / 25 Sya’ban  – 10 Ramadhan 1431 H


ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Tidurnya Orang Berpuasa
  2. Puasa Tapi Tidur

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Hadis, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tidurnya Orang Puasa Bukan Ibadah

  1. Fikri says:

    Wah, jum’at kemarin saya mendengar khutbah tentang ini, kata khatibnya tidur saat Ramadhan bernilai ibadah bila tidur itu adalah yang paling baik dibandingkan aktivitas lain yang malah akan mengurangi pahala puasa.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s