Munggahan Ramadhan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada kebiasaan di masyarakat kami yang dikenal dengan istilah munggahan Ramadhan. Saat munggahan, biasanya kami membuat hidangan makanan untuk disantap bersama dan dipersembahkan bagi sesajian sebagai bentuk syukur dan harapan agar disampaikan usia kita ke bulan Ramadhan. Apakah hal ini diajarkan oleh Rasulullah SAW? Bagaimana seharusnya menyambut Ramadhan yang benar?

Huda , Bogor

Jawaban :

Kesyukuran menghadapi Ramadhan dan berharap agar disampaikan usia sampai bulan Ramadhan haruslah dengan melakukan ketaatan-ketaatan yang disunahkan, bukan dengan maksiat apalagi kesyirikan. Merayakan kesyukuran dengan makan bersama pada hakikatnya sesuatu yang baik apalagi jika yang diajak makan bersama adalah fakir miskin dan yatim.

Namun, di dalamnya jika sudah bercampur dengan memberikan sesajian ( sesajen ), dengan upacara atau tata cara yang mengandung kesyirikan maka hal itu adalah ritual yang diharamkan. Iblis tidak akan pernah berhenti membuat tipu daya dan menebar jerat-jerat kesyirikan atas nama agama, apalagi ketika mereka akan diikat dan manusia mulai konsentrasi beribadah kepada Allah.

Berharap panjang umur dan keberuntungan adalah juga pintu gerbang Iblis untuk menyesatkan manusia:  “… dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan ( untuk saya ), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka ( memotong telinga-telinga binatang ternak ), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka ( mengubah ciptaan Allah ), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisa, 118-119).

Dalam menyambut Ramadhan, Rasulullah SAW sudah mempersiapkannya sejak bulan Rajab dan semakin meningkat ketika memasuki bulan Sya’ban. Bentuk-bentuk ketaatan yang dilakukan adalah memperbanyak ibadah-ibadah sunah yang disyariatkan seperti  puasa, shalat malam, dan tilawah Al-Quran. Ada pula yang menyambut Ramadhan dengan bersilaturahim, saling bermaafan, maka ini budaya yang tidak bertentangan dengan syariat, insya Allah. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 29 Juli  2011 / 27 Syaban 1432 H

 ΩΩΩ

Silakan Baca Juga :

1. Nisfu Sya’ban

2. Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

3. Tradisi Ruwahan

4. Keutamaan Sya’ban

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s