Sikap Pengajar Al-Quran


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya seorang guru Taman Pendidikan Al-Quran. Bagaimana seharusnya sikap seorang pengajar Al-Quran sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW?

Farid, Bekasi

Jawaban :

Ingat wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW, “Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” ( QS Al-‘Alaq [96] : 1 ).

Rasulullah adalah seorang yang ummi ( buta aksara ) saat menerima ayat ini. Yang jelas pelajaran pertama yang didapatkan Rasulullah SAW dari Jibril bukanlah pelajaran menulis kaligrafi Arab, tetapi pentingnya memberikan pendidikan yang sehat bagi anak didik kita dan masyarakat.

Rasulullah dan para sahabat beliau adalah pelopor pendidikan berbasis ‘ikhlas’, yang berorientasi pada penyebaran ilmu pengetahuan yang benar secara gratis alias cuma-cuma sebagai perantara hidayah Allah azza wa jalla bagi orang lain. Beliau bersama para sahabat bahu-membahu mendirikan pusat-pusat ( madaris ) pengkajian Al-Quran.

Al-Quran itu suci ayat-ayatnya. Oleh karena itu, hanya mampu diemban oleh orang-orang yang berniat dan bertujuan bersih pula. Hal yang paling mendasar dari sikap mental Beliau dan para sahabat sebagai tenaga pendidik dan pengajar Al-Quran, yakni “Siapa yang meniti jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga.” Dan ada pula peringatan yang dijadikan pegangan oleh Beliau dan para sahabatnya, “Barang siapa yang ditanya ilmu yang telah dikuasai lalu ia sembunyikan, orang itu akan dililit api neraka di akhirat kelak.”

Suatu ketika Ubadah bin Shamit sebagai pengajar Al-Quran menerima hadiah dari muridnya. Lalu, beliau menerima hadiah itu dengan niat untuk kepentingan Islam. Nabi Muhammad SAW menegurnya, “Jika mau menerima lilitan api neraka di leher Anda, silakan ambil hadiah itu.” ( HR Ahmad ).

Menjadi pengajar Al-Quran harus berorientasi mencari ridha Allah semata, jangan sampai terbetik untuk menumpuk kekayaan duniawi.

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya pada orang lain.” Tentu yang dimaksud adalah orang yang belajar dan mengajarnya demi mendapatkan kebahagiaan akhirat dan keridhaan Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 20 Juli  2011 /  18 Syaban 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Al-Quran, Bachtiar Nasir, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s