Mencari Ilmu Hakiki


Oleh : Erma Pawitasari

Pertanyaan saya pada Ibu Erma. Apa kiat-kiat dalam menuntut ilmu yang tinggi & ilmu hakiki tapi secara finansial kami kurang mampu? Cuma itu yang jadi kendala kami. Tolong beri tuntunannya, supaya sukses dalam mencari ilmu untuk dunia & akhirat. Wassalam

Hamba Allah – 0812 302 4****

Jawaban :

Saya asumsikan antum masih muda dan dalam proses mencari ilmu sehingga izinkanlah saya untuk menyapa antum dengan “Adik”.

Pertanyaan Adik mengenai ilmu hakiki adalah pertanyaan yang sangat penting. Kebanyakan kita telah dibuat tersesat dalam memahami makna ilmu.

Pada tanggal 18-19 Mei 2011 lalu, di Universitas Ibnu Khaldun Bogor telah diselenggarakan seminar internasional bertema Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Sains. Pada kesempatan itu, hadir pembicara-pembicara dari enam negara, antara lain Mesir, Sudan, Canada, Malaysia, Uganda, dan tentu saja Indonesia. Salah satu bahasan yang menarik adalah paparan dari Ustadz Dr. Syamsuddin Arif. Beliau mengatakan bahwa ilmu yang salah ( false knowledge ) adalah bukan ilmu, sebagaimana false money ( uang palsu ) bukanlah uang. Dengan demikian, ketika Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, maka ilmu yang dimaksud bukanlah sembarang pengetahuan / informasi, tetapi haruslah memenuhi apa yang Adik sebut sebagai ilmu hakiki ( karenanya, istilah ilmu hakiki tidaklah diperlukan, sebab yang sebenarnya layak disebut “ilmu” hanyalah apa yang kita pandang sebagai “ilmu hakiki” ).

Ilmu meliputi kalamullah dan sunnatullah. Kalamullah adalah tuntunan yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa Al-Quran maupun sunnah Rasul. Mempelajari kalamullah dan ilmu-ilmu alam ( sunnatullah ) termasuk hal yang diwajibkan bagi umat Islam agar sempurna ibadah kita. Misalnya ketika Allah SWT memberikan kewajiban dakwah maka umat Islam wajib mempelajari karakteristik kaum yang hendak didakwahi, mempelajari bahasanya agar bisa menyampaikan secara terbaik, dan memahami budayanya agar bisa menunjukkan mana yang boleh dan mana yang harus ditinggalkan. Demikian pula ketika Allah SWT melarang kita untuk berbuat kerusakan di muka bumi ( al-Baqarah 11, 60, 205 ), maka wajib bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu tanah, ilmu udara, ilmu air agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak alam. Artinya, “ilmu dunia” ( alam & sosial kemasyarakatan ) wajib dipelajari dalam kerangka berpikir ( worldview ) Islam, untuk meluruskan / menyempurnakan ibadah kita kepada Allah.

Apabila kita bandingkan dengan pelajaran / kurikulum sekolah nasional maupun kurikulum yang berasal dari Barat ( dengan label “internasional” ), maka kita akan dapati bahwa kurikulum-kurikulum tersebut memberikan ilmu secara sangat minim. Sisanya ( mayoritas muatan kurikulumnya ) adalah informasi-informasi sampah atau bahkan informasi-informasi yang menyesatkan. Oleh karenanya, Adik tidak perlu risau jika saat ini Adik tidak belajar di sekolah-sekolah nasional / internasional.

Kewajiban menuntut ilmu, sesungguhnya bukan hanya kewajiban kita selaku individu, tetapi juga kewajiban negara untuk memfasilitasi tercapainya proses belajar-mengajar yang benar. Dalam sejarah Khilafah Islamiyah, negaralah yang menyediakan sekolah secara gratis, memproduksi buku-buku secara massal bagi masyarakat, dan menggaji para guru dengan gaji yang layak. Kebiasaan ini masih bisa kita lihat pada sekolah-sekolah di beberapa negeri Muslim yang dulu merupakan bagian dari Khilafah Islamiyah, seperti Arab Saudi dan Mesir, yang memberikan pendidikan secara gratis ( sayangnya masih ada sekat-sekat nasionalisme sehingga fasilitas ini tidak bisa dinikmati oleh seluruh umat Islam ). Prinsip pendidikan gratis ini juga dicontoh oleh negara-negara Barat, sehingga banyak negara-negara “maju” ( termasuk Amerika hingga level tertentu ) yang membebaskan siswa dari segala biaya belajar.

Bagaimana dengan kondisi kita dan apa jalan keluarnya? Secara makro, negara kita harus segera kembali kepada Islam dan mempraktekkan ajaran Islam secara kaffah, termasuk dalam pengelolaan pendidikan. Secara individu, coba Adik mulai dengan belajar Al-Quran dan menghafalkan beberapa juz atau bahkan seluruh juz. Setelah Adik berhasil, saya yakin insya Allah akan terbuka banyak kesempatan untuk mendapatkan beasiswa, terutama dari lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik untuk belajar di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dunia seisinya ini milik Allah, maka berlarilah kepada Allah, mendekatlah, bertakwalah, serta memohonlah pada-Nya, agar dilapangkan kehidupan kita di dunia dan akhirat. Semoga sukses. ■

Sumber : Konsultasi Pendidikan, Suara Islam, Edisi 115,  15 Rajab – 6 Sya’ban 1432 H / 17 Juni  – 8 Juli 2011

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Erma Pawitasari, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s