Peran Pemerintah Mengakomodasi Paham


Oleh : M Quraish Shihab

Di Indonesia , penentuan awal dan akhir Ramadhan sering terjadi perbedaan. Apa dasar hukum pemerintah menentukan jadwal puasa Ramadhan tersebut ?

Sapto Hutomo, Yogyakarta .

Jawaban :

Pemerintah telah membentuk Badan Hisab dan Rukyat, yang bertugas menetapkan awal puasa dan hari raya. Anggotanya terdiri atas ulama-ulama serta berbagai organisasi Islam dengan aneka pandangannya.

Kelihatannya pemerintah berupaya memadukan pandangan ulama yang menetapkan awal Ramadhan / Lebaran berdasar hisab dan ulama yang menganut paham rukyat. Yaitu dengan berupaya melakukan hisab, kemudian melihat apakah menurut hisab bulan telah ada atau telah dapat dilihat atau belum.

Atas dasar hisab itu, pemerintah menugaskan orang-orang terpercaya untuk melihat bulan, dan atas dasar perhitungan serta laporan mereka itu pemerintah menetapkan awal Ramadhan / Lebaran.

Memang, masih saja ada perbedaan antara sekelompok ulama dan pemerintah, tetapi hal itu dapat ditoleransi karena masing-masing mempunyai dasar bagi pendapatnya.

Kelompok ulama di bawah koordinasi Organisasi Konferensi Islam ( OKI ) menetapkan bahwa di mana saja bulan di lihat oleh orang terpercaya, maka sudah wajib puasa dan berlebaran atas seluruh umat Islam.

Salah satu syaratnya, selama ketika melihatnya, penduduk yang berada di wilayah yang disampaikan kepadanya berita kehadiran bulan itu, masih dalam keadaan malam.

Jika selisih waktu antara satu kawasan dan kawasan lain belum mencapai jarak yang menjadikan perbedaan terjadinya malam di satu kawasan dan siang di kawasan lain, maka dalam keadaan seperti itu puasa telah wajib bagi semua.

Selisih waktu antara Jakarta dan Saudi Arabia atau Mesir, tidak lebih dari empat atau lima jam. Awal malam di Timur Tengah belum lagi tengah malam di Jakarta.

Jika terlihat bulan di Timur Tengah maka masyarakat Muslim Indonesia sudah wajib berpuasa. Ini berbeda dengan beberapa wilayah di Amerika Serikat dengan Indonesia.

Perbedaan waktu dapat begitu panjang antarkedua wilayah ini, sehingga ketika matahari baru terbenam di sana, matahari di Indonesia sudah terbit lagi di hari yang berbeda.

Demikian pula sebaliknya. Tetapi jika masyarakat Muslim di Mekah atau Maroko misalnya, melihatnya, maka baik masyarakat Muslim di Indoensia maupun di Amerika kesemuanya telah wajib berpuasa.

Karena betapapun perbedaan waktu terjadi, semuanya,  ketika di satu tempat terlihat bulan, masih dalam keadaan malam. Sungguh jika ini dilaksanakan, maka akan banyak waktu, tenaga, dan biaya yang dihemat, bahkan salah satu sumber perselisihan antarumat Islam dapat teratasi.

Demikian, Wallahu a’lam. ■

Sumber : Interaktif , Lembaran Khusus Ramadhan 1424, Media Indonesia, Minggu, 2 November 2003

ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Pelaksanaan Puasa Sering Berbeda

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Fiqih, M.Quraish Shihab, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s