Tahapan Apa Saja Untuk Mencapai Takwa ?


Oleh : M Quraish Shihab

Saya ingin bertanya kepada Bapak Ustadz :

  1. Tujuan berpuasa untuk mencapai ketakwaan. Lalu tahapan-tahapan apa saja untuk mencapai derajat ketakwaan ?
  2. Apa yang dimaksud dengan puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang khusus ?
  3. Bagaimanakah hukumnya makan sahur di pertengahan azan Subuh ?
  4. Bagaimana hukum pemakaian jarum suntik bagi orang yag berpuasa ?
  5. Bolehkah menggosok gigi dengan memakai odol ?
  6. Bagaimanakah hukumnya jika seorang wanita haid, berhenti dari haidnya di siang hari Ramadhan ?
  7. Bagaimanakah hukumnya orang yang melaksanakan ibadah puasa tapi tidak melaksanakan shalat 5 waktu ( shalat yang dikerjakan hanya shalat Jumat saja dengan shalat dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha ) ?
  8. Bolehkan melaksanakan sahur hanya dengan memakan korma atau makanan lain sebagai pengganti dari nasi atau dengan susu saja ?

Awab Abdullah, Otista Raya, Jakarta Timur

Jawaban :

  1. Takwa adalah kata yang menghimpun semua kebajikan. Tidak ada batasnya yang tertinggi dari saat ke saat dia dapat bertambah karena hidayah Allah tidak terbatas ( Baca QS Maryam [19] : 76 ). Itu pula sebabnya Nabi pun diperintahkan terus membaca Al-Fatihah di mana terdapat permohonan kiranya memperoleh tambahan hidayah. Tingkatnya yang terendah adalah mengucapkan dua kalimat syahadat serta berupaya menaati Allah dan bila berdosa segera ingat ( Baca QS Ali Imran [3] : 134-135 ).
  2. Puasa umum adalah sekedar menahan diri dari makan, minum dan hubungan seks sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa khusus adalah puasa umum, plus menahan semua anggota badan dari aneka pelanggaran, mulut tidak berbohong, telinga tidak mengengar kedurhakaan dan lain-lain. Puasa khusus yang khusus, adalah puasa khusus plus menjaga hati sehingga tidak melakukan kedurhakaan seperti angkuh, dengki, dan lain-lain.
  3. Azan dilakukan begitu waktu masuk. Karena itu tidak boleh lagi makan dan lain-lain di pertengahan azan.
  4. Boleh bersuntik saat puasa.
  5. Boleh juga bergosok gigi dengan odol asal tidak ada yang tertelan.
  6. Wanita yang berhenti haidnya pada siang Ramadhan, belum dapat berpuasa pada hari itu. Dalam mazhab Syafi’i minimal haid adalah tiga hari. Jika berhenti sebelum tiga hari, ia baru berpuasa setelah berlalu hari ketiga. Dalam mazhab Malik, tidak ada batas minimal haid. Yang bersangkutan boleh berpuasa pada hari berikutnya, tetapi bila ternyata darah keluar lagi di siang hari, puasanya tidak sah.
  7. Yang tidak shalat lima waktu berdosa, namun puasanya sah.
  8. Boleh melaksanakan sahur dengan makan apa saja yang halal, Rasul pun seringkali demikian.■

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Republika, Senin, 10 Desember 2001 /  24 Ramadhan 1422 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Fiqih, M.Quraish Shihab, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s