Guru Terlibat Kecurangan UN


Oleh : Erma Pawitasari

Ibu Erma yang saya hormati, saya mau bertanya: Bu, bagaimanakah menurut pandangan Islam, jika ada guru yang ketika ujian nasional (UN) berlangsung malah memberitahu jawaban pada siswanya? Apakah seorang guru boleh melakukan hal seperti ini? Apakah ijazah yang nanti akan didapatkan termasuk ijazah yang halal? Saya mohon kepada Ibu untuk menjawabnya.

Gadis, di X, +628777202****

Jawaban :

Subhanallah, Maha Suci Allah dari perilaku-perilaku manusia yang menyimpang. Jawaban pertanyaan Gadis sungguh jelas: guru memberikan jawaban ujian kepada murid merupakan kecurangan.

Namun, mengapa perilaku menyimpang ini kini seakan mewabah di seluruh penjuru Nusantara? Bentuk kecurangannya pun bermacam-macam, mulai dari himbauan agar guru memberikan suasana yang “kondusif” dalam contek-menyontek, pembiaran penggunaan HP selama ujian, penyebaran kunci jawaban, pembentukan tim sukses ujian nasional, hingga perintah kepada murid-murid pandai untuk berbagi jawaban kepada teman-temannya. Kasus yang paling baru adalah laporan orang tua murid, Ibu Siami dari Surabaya dan Ibu Irma Winda Lubis dari Jakarta. Ibu Siami melaporkan bahwa anaknya, Alif, diintimidasi guru-gurunya untuk berbagi jawaban kepada teman-temannya di SDN Gadel 2, Surabaya. Sedangkan Ibu Irma melaporkan kejadian serupa pada SDN Pesanggrahan 6 Jakarta.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesakitan sistematis pada dunia pendidikan nasional kita. Para pendidik seakan sudah kehilangan arah, tidak tahu ke mana anak didiknya hendak dibawa. Akhirnya, pemikiran pragmatislah yang menang. Sekolah yang bisa mengantarkan 100% muridnya untuk lulus Ujian Nasional dipandang sebagai sekolah hebat, sekolah yang akan dikejar oleh para orang tua murid untuk mendaftarkan anaknya ke sana. Prestise sekolah pun menaik. Bahkan, bagi sekolah swasta yang sekarat ( kondisi keuangan buruk lantaran kekurangan murid ), kelulusan murid-muridnya bisa menjadi mati hidupnya sekolah. Maka, berbagai jalan pun mereka tempuh demi menyelamatkan sekolah dan demi lapangan kerja bagi para tenaga kependidikan di sekolah tersebut.

Gnti Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan nasional kita sudah di ambang kehancuran. Dengan biaya yang sangat tinggi, lulusan SMA / sederajat kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk hidup layak. Yang lulusan sarjana pun tidak mampu berpikir kreatif dan mandiri. Kesemuanya itu, ditambah dengan pengetahuan agama yang sangat minim, maka bisa dikatakan bahwa hasil dari sistem pendidikan kita tidak lebih dari selembar ijazah. Inipun, banyak terjadi kasus pemalsuan ijazah. Ijazah hasil penipuan tentu bukanlah ijazah yang halal.

Alangkah baiknya jika kita mulai memikirkan sistem pendidikan baru bagi bangsa ini. Apalagi, sebagai umat Islam, kita memiliki tradisi keilmuan yang luar biasa hebat di masa lampau. Salah satu model kurikulum yang wajib dipertimbangkan adalah konsep Ibn Sina. Beliau membagi jenjang pendidikan dalam beberapa tahapan, yakni:

1.    Pendidikan Usia Dini (0-2 tahun)
2.    Pendidikan Pra-Sekolah (3-5 tahun)
3.    Pendidikan Sekolah (6-14 tahun)
4.    Pendidikan Spesialisasi (lepas 14 tahun).

Pada usia dini dan pra-sekolah, fokus pendidikan adalah pembinaan akhlaq melalui contoh ( pada pendidikan usia dini ) dan pembiasaan ( pada pendidikan pra-sekolah ). Ketika anak memasuki jenjang pendidikan sekolah, maka fokus pendidikan adalah penguasaan ilmu agama, termasuk menghafalkan Al-Quran. Materi pelajaran pada fase ini meliputi hafalan Al-Quran, membaca dan menulis huruf hijaiyah, pengetahuan agama ( fiqh, tafsir, tauhid, akhlak, syariah ), syair-syair membangun jiwa, dan olah raga. Selain materi-materi pokok tersebut, Ibn Sina menambahkan beberapa materi penting yakni ilmu alam ( sains ), ilmu matematika, dan ilmu Ketuhanan ( yakni berkaitan dengan pembuktian kebenaran dan jalan mencapai keimanan ). Selepas 14 tahun, murid-murid mulai mengambil spesialisasi sesuai bidangnya. Bagi yang ingin belajar berdagang, bisa magang ke pedagang dan menekuni dunia perdagangan. Demikian pula para pecinta ilmu yang ingin terus menekuni dunia keilmuan, bisa memperdalamnya secara fokus. Walaupun minat murid dipertimbangkan, namun Ibn Sina mewajibkan para guru untuk memberikan rekomendasi pilihan spesialisasi yang paling tepat bagi setiap individu muridnya.

Dari paparan minim ini saja bisa kita lihat bahwa kurikulum Ibn Sina lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan kurikulum nasional. Pembinaan tauhid dan akhlaq berjalan, sementara kebutuhan praktis di lapangan maupun kebutuhan individu murid pun terpenuhi. Selain itu, kita tidak akan dipusingkan dengan masalah Ujian Nasional, karena sistem evaluasi diserahkan sepenuhnya sebagai tanggung jawab guru masing-masing.

Sumber : Konsultasi Pendidikan, Suara Islam, Edisi 116,  6  – 20 Sya’ban 1432 H  / 8 – 22 Juli 2011 M

Erma Pawitasari, M.Ed , Kandidat Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibnu Khaldun  Bogor ;  Direktur Eksekutif Andalusia Islamic Education  & Management Services (AIEMS) ;  Alumnus School of Education , Boston University

Gambar : http://newspaperupdate01.blogspot.com

ΩΩΩ

 Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Erma Pawitasari, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Guru Terlibat Kecurangan UN

  1. oriie rianzi says:

    Salam kenal kawan ,
    Mari berteman. .
    semangat terus tuk berkarya

    ——————————————

    Salam kenal kembali. Semoga silaturahim kita semakin terjalin dengan baik.
    Sukses selalu buat Anda.
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s