Pendidikan Meraih Sukses Dunia Akhirat


Oleh : Erma Pawitasari

Ibu, pendidikan seperti apa yang bisa membawa kesuksesan dunia dan akhirat? Mohon penjelasannya.

Hamba Allah, HP.+628588******

Jawaban :

Pendidikan yang membawa kesuksesan dunia dan akhirat sudah banyak didefinisikan oleh para ulama kita. Ibn Taimiyah, misalnya, mengatakan bahwa orang yang mencari ilmu tanpa niat baik atau berniat baik tanpa ilmu atau melakukan keduanya tanpa mengikuti ajaran Islam adalah orang yang tersesat. Ibn Sina juga berpendapat bahwa pendidikan harus ditujukan untuk Allah SWT. Ibn Khaldun menegaskan bahwa konsep pendidikan yang terpenting adalah pemahaman fakta, dan Allah adalah fakta yang paling fundamental dan segala eksistensi di dunia ini bergantung pada-Nya. Oleh karena itu, menurut Ibn Khaldun, intepretasi keilmuan di segala bidang ilmu tidak boleh terlepas dari ajaran agama.

Para ulama pendidikan kita bersepakat bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang ditujukan untuk mencari ridla Allah dan dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan inilah yang akan membawa kesuksesan dunia dan akhirat.

Bagaimana Pendidikan Agama Membawa Kesuksesan Dunia?

Membaca konsep pendidikan para ulama kita tentu di benak kita muncul pertanyaan: “Bagaimana pendidikan agama bisa membawa kesuksesan dunia? Sesungguhnya, pertanyaan ini sangat wajar dikarenakan kita lahir, hidup, tumbuh, dan berkembang di dunia dan masyarakat sekuler yang menganggap urusan dunia dan akhirat sebagai dua hal yang terpisah.

Penerimaan konsep sekulerisme bervariasi. Ada yang secara total menolak aturan Islam tapi tetap mengaku sebagai orang Islam. Ada yang mengambil aturan Islam secara sebagian-sebagain; misalnya: rajin berhaji tetapi rajin pula korupsi, rajin shalat 5 waktu tetapi tidak berjilbab, berjilbab tetapi shalatnya lubang-lubang, berjilbab tetapi pacaran, atau berjilbab tetapi menjalankan bisnis haram.

Dalam suasana kehidupan yang sekuler ini, maka kita banyak menyaksikan ketidaksinkronan antara profesi duniawi dengan tujuan hidup ukhrawi. Seorang profesor, misalnya, mendapatkan kesuksesan duniawi walaupun tidak belajar agama. Sementara, orang-orang yang berkecimpung di bidang agama, kehidupan dunianya sangat memprihatinkan: jorok, luntang-lantung, dan bergantung pada donasi masyarakat (catatan: tidak semuanya demikian, ini hanya penggambaran umum untuk menunjukkan kontradiksi agama dan dunia).

Hal ini sangat jauh berbeda dengan kondisi kaum Muslimin sebelum era sekulerisasi menimpa. Salah satu contoh bisa kita lihat pada sosok ulama besar kita Abu Hanifah, pendiri mahzab Hanafi. Mahzab disebut juga school of thought, dalam peradaban Barat bisa dikategorikan sebagai gurunya para profesor. Pada saat bersamaan, Abu Hanifah juga merupakan pedagang yang dermawan dan jujur. Beliau tidak menjadi beban umat, tetapi menjadi panutan umat. Kondisi ini tentu saja tidak lepas dari peran negara yang sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ( catatan: pada masa pra sekulerisasi, yang dianggap ilmu hanyalah yang sejalan dengan agama ). Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya, membayar emas seberat buku yang ditulis kepada para ulama. Dengan demikian, dorongan untuk menekuni ilmu agama sangatlah besar.

Perlu kita perhatikan pula, bahwa Islam memiliki definisi kesuksesan yang berbeda dengan konsep lain. Kesuksesan duniawi versi Islam bukanlah keberhasilan menumpuk kekayaan untuk anak-cucu tujuh turunan. Islam bahkan melarang kita untuk menumpuk harta dan membiarkan harta hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Kesuksesan juga bukan berarti memiliki seribu pelayan dan hidup di istana megah, sebagaimana cerita-cerita pangeran dan putri yang dicekokkan ke benak kita sejak kanak-kanak ( termasuk cerita Barbie yang banyak dikonsumsi anak-anak kita ). Kesuksesan model ini bertumpu pada penindasan, sebab seseorang hanya bisa menikmati kesuksesan jika ada seribu orang yang gagal dan harus puas menjadi pelayan. Orang yang sukses, menurut Islam, memiliki beberapa indikator, antara lain:
1.    Giat bekerja dan tidak mau berpangku tangan, lantaran berharap pahala dari Allah.
2.    Profesional, yakni jujur, bersih, selalu menepati janji, dan      bersungguh-sungguh (memberikan usaha yang maksimal) karena berharap penilaian baik dari Allah.
3.    Berpartisipasi aktif untuk kemajuan masyarakat Islam.
4.    Hatinya selalu ridla kepada Allah atas kondisi apapun yang menimpanya.

Karena itulah, kita memerlukan perombakan kurikulum pendidikan, dari orientasi duniawi kepada tujuan mencari keridlaan Allah. Tujuan duniawi menimbulkan ketidakadilan sosial, penyakit mental, kerusakan lingkungan dan tidak mendapatkan pahala di akhirat. ■

Sumber : Konsultasi Pendidikan, Suara Islam, Edisi 102,  26 Dzulhijjah 1431 H – 11 Muharram 1432 H / 3 – 17 Desember 2010 M

Judul asli : Sukses Dunia Akhirat

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Erma Pawitasari, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pendidikan Meraih Sukses Dunia Akhirat

  1. Dedi sumiadi says:

    nice answer:roll: secara kasar ilmu dibagi menjadi 2 yakni;
    ilmu perut&sup1 dan ilmu non perut&sup2 ilmu perut adl segala macam ilmu yg ujung2 bermuara pada urusan perut,sedangkan ilmu non perut adl ilmu yg lebih mengutamakan aspek ruhaniyah..sbg contoh manusia hendaknya kita mengenal 4 hal yakni mengenal dirinya&sup1 mengenal tuhannya&sup2 mengenal dunianya&sup3 dan tentu mengenal akheratnya&sup4 semoga bermanfaat🙄

    ————————————-

    Terima kasih banyak atas tambahan informasinya.
    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s