Jaminan Hidup Sukses


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak Kiyai, adakah dalil tentang jaminan hidup sukses dari Allah bagi hamba yang rajin ibadah?. Tapi yang saya tahu ibadah harus lillahi ta’ala, bukan karena hal lain. Terimakash.

Panji, Tajur, Bogor

Jawaban:

Pertama, perlu dipahami tentang arti sukses. Bagi seorang Muslim menginginkan hidup sukses berarti menginginkan hidup bahagia baik di dunia maupun akhirat. Inilah yang selalu kita idamkan  dan kita minta kepada Allah Swt dalam setiap berdoa. Dan doa ini pula yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim. Allah Swt berfirman: “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” ( QS. Al Baqarah [2] : 201 ).

Sementara kebahagaiaan bukanlah sesuatu yang selama ini banyak dipahami oleh masyarakat yang telah teracuni paham kapitalis. Sebagian besar masyarakat saat ini menganggap bahwa kebahagiaan identik dengan kepemilikan harta yang melimpah, rumah yang mewah, kendaraan yang bagus, perusahaan yang bonafid, tabungan dan deposito yang berdigit-digit dan sebagainya. Padahal faktanya tidak demikian. Banyak sekali orang-orang yang hidup bergelimang materi, tetapi tetap mengaku tidak bahagia. Sebaliknya ada orang yang hidupnya secara materi pas-pasan tetapi merasa bahagia.

Dalam Islam, kebahagiaan tidaklah diukur berdasarkan standar materi. Sebab dalam hidupnya, seorang Muslim akan senantiasa menjalankan seluruh aktivitasnya menyesuaikan diri dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Maka kebahagiaan itu bukanlah sekadar memuaskan kebutuhan jasmani dan mencari kenikmatan duniawi, melainkan mendapatkan keridlaan Allah SWT. Inilah makna kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki.

Kedua, apakah Allah Swt akan memberikan jaminan hidup sukses bagi hamba-Nya yang rajin beribadah?. Jawabannya adalah ya. Benar, Allah Swt akan memberikan jaminan kesuksesan atau keberuntungan bagi mereka yang beriman dan menjalankan amal shaleh. Tidak tanggung-tanggung, Allah Swt akan mengganjar orang-orang yang beriman dan beramal shaleh itu dengan surga Firdaus. Jaminan ini telah Allah Swt sampaikan dalam Surat Al Mu’minun (23) ayat 1-11.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ( yaitu ) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,  ( yakni ) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Ketiga, dalam beribadah seorang Muslim hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus ikhlas. Tidak boleh melakukan amal perbuatan dengan niat atau harapan selain karena Allah Swt.  Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya ( hanya ) mendapatkan apa yang dia inginkan.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Tentu saja jika kita beribadah dengan tujuan mendapatkan balasan dari Allah berupa surga-Nya, hal itu tidaklah dilarang. Malah dianjurkan oleh Allah Swt.  Allah SWT berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. ( QS. Ali ‘Imran [3] : 133 ).

Dalam hadits yang di-takhrij oleh Bukhari Muslim dari Jabir, diungkapkan: Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Saw pada perang Uhud, “Bagaimana pandanganmu Ya Rasulullah Saw jika aku terbunuh saat ini? Dimanakah tempatku (setelah kematian)?” Rasulullah bersabda, “Engkau akan berada di surga.” Mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, maka laki-laki itu serta-merta melemparkan buah kurma yang ada di tangannya, kemudian ia maju untuk berperang hingga terbunuh di medan perang.

Hadits ini memberi petunjuk kepada kaum Muslim agar bersegera dan cepat-cepat melaksanakan perkara yang telah diwajibkan Allah SWT sekaligus menunjukkan bolehnya kita mengharap surga-Nya dalam menjalankan ibadah.

Wallahu a’lam bissawab.■

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 114,  1 – 15 Rajab 1432 H / 3 – 17 Juni 2011 M

Gambar : http://fianzoner.blogspot.com

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Akhlak and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s