Syariat Waris


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Dalam hidup bermasyarakat, kita selalu berhadapan dengan hukum negara dan hukum adat beserta segala konsekuensinya, termasuk di dalamnya penyelesaian kasus waris. Satu sisi, kita dituntut untuk melaksanakan aturan agama Islam. Di sisi lain, kita dituntut pula menjalankan hukum negara atau hukum adat.

Jika semuanya seirama, tidak ada masalah. Tapi, jika berbenturan, mana yang harus kita dahulukan? Dan, apa keunggulan dari penerapan syariat waris Islam?

Hamba Allah

Jawaban :

Berbahagialah Anda menjadi seorang Muslim yang sudah yakin pada kebenaran al-Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW dan jangan pernah goyah sedikit pun dalam menjalankan keyakinan itu. Bersyukur pula kita ditakdirkan menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang telah memiliki undang-undang dasar dan kompilasi hukum Islam ( KHI ).

Semua undang-undang dan aturan itu telah ditetapkan melalui sebuah proses dan mekanisme serta upaya keras para ahli yang tidak main-main. Walau demikian, tetap saja akan ada kekurangan di sana-sini karena begitulah tabiat undang-undang buatan manusia yang tidak akan pernah sempurna. Tidak pernah pula sepi dari perdebatan dan perbedaan pendapat di tingkat pelaksanaannya.

Demi keadilan yang sesungguhnya, hukum Allah SWT wajib diperjuangkan dan diprioritaskan untuk diamalkan dalam kondisi bagaimanapun. Sebagaimana ketentuan syariat waris yang telah Allah tetapkan untuk kita ( QS an-Nisa: 11, 12, dan 176 ). Kewajiban melaksanakan hukum waris Islam adalah wajib. Sama dengan kewajiban shalat fardu atau kewajiban ibadah lainnya.

Dan bagi orang yang melanggar atau menentang syariat waris, dia telah berdosa, seperti disebutkan dalam firman Allah, “( Hukum-hukum tersebut)  itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan.” ( QS an-Nisa [4] : 13 dan 14 ).

Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang pahala bagi hamba yang menjalankan syariat waris dan ancaman bagi yang menentangnya. Adapun hukum negara atau adat adalah sebagai legal standing atau penguat hukum. Dan jika bertolak belakang, hukum Allahlah yang harus ditegakkan.

Keunggulan hukum waris Islam dibandingkan hukum mana pun, salah satunya adalah pada balasan surga bagi yang menaatinya dan siksaan neraka bagi yang mengingkarinya. Selain keadilan sejati dan universalitasnya yang tak diragukan lagi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 20 Juni  2011 /  18 Rajab 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s