Mengapa Riya Disebut Syirik Kecil ?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Sering kali saya merasa bangga dengan kebaikan-kebaikan dan ibadah-ibadah yang saya lakukan di hadapan orang lain. Saya pernah membaca salah satu hadis yang menyebut bahwa riya itu syirik kecil. Pertanyaannya, mengapa riya ( memamerkan kebaikan ) dikategorikan syirik kecil atau syirik tersembunyi? Dan mengapa pula Rasulullah takut hal itu menimpa umatnya?

Jawaban :

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Riya, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan di sisi mereka?” ( HR Ahmad-22528 ).

Menurut Ibnu Qayyim, riya dikategorikan syirik kecil karena telah mencederai keyakinan seseorang pada ‘iyyaaka na’bud’ ( hanya kepada Engkau saja kami menyembah ). Betul syirik kecil ini yang lebih dikhawatirkan Rasulullah ketimbang fitnah Dajjal, karena fitnah Dajjal terjadi di akhir zaman sementara riya bisa terjadi kapan saja. Fitnah Dajjal tampak kesesatannya tetapi riya sering kali tidak tampak.

Pada kata ‘iyyaka’ ( hanya kepada Engkau )  terkandung makna mengkhususkan penghambaan hanya untuk Allah ( takhsisul ubudiyyah lillah ), hal ini dirusak oleh sikap riya, karena Allah disekutukan dengan mengharap perhatian dan pujian dari makhluk. Allah tidak lagi dikhususkan dalam memohon harapan dan pujian serta perhatian.

Singkat kata, pelaku riya mengharapkan bagian untuk hawa nafsunya yang telah menjadi sesembahan. “…. Mereka bermaksud riya ( dengan shalat ) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” ( QS An-Nisa [4] : 142 ). Wallahu a’lam bish shawab. .

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 28  Juni  2011 / 26 Rajab 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s