Gaya Hidup Riya


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, mengapa gaya hidup riya ( pamer ) itu dikategorikan syirik kecil oleh Rasulullah SAW? Sebetulnya, seberapa besarkah bahaya gaya hidup riya itu sehingga begitu dikhawatirkan oleh Rasulullah. Apakah budaya korupsi juga berasal dari gaya hidup riya? Terima kasih atas penjelasannya.

Fathur Rosy

Jawaban :

Dari ‘Amru dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil”. Mereka bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Riya, Allah azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: ‘Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan di sisi mereka’?” ( HR Ahmad – 22523 ).

Riya dikategorikan syirik kecil karena perbuatan ini membawa pelakunya secara halus menyekutukan Allah secara tersembunyi, karena tidak memurnikan tujuan ketaatannya hanya kepada Allah ( ikhlas ). Pelaku riya mencari perhatian dan pujian orang lain dari perbuatannya. Kalaupun pelaku riya mengingat Allah dalam perbuatannya, hanyalah sedikit saja ( QS an-Nisa [4] : 142 ), bahkan terkadang pelaku riya memperalat agama dan nama Tuhannya hanya demi mencapai ambisi-ambisinya.

Pelaku riya dianggap melakukan syirik kecil karena kebahagiaannya bukan ketika menggantungkan harapannya hanya kepada Allah, kebanggaannya bukan ketika bertakwa kepada Allah azza wajalla, kekuatannya bukan ketika bertawakal kepada Allah saja, rasa kayanya bukan ketika merasa cukup dengan pemberian Allah saja. Masih ada harapan dan sandaran lain yang lebih dipercaya selain Allah.

Budaya korupsi memang sangat kuat dipengaruhi oleh gaya hidup syirik kecil ini. Sebab, gaya hidup riya membentuk pola hidup besar pasak daripada tiang, ketika kemampuan memamerkan yang terbatas harus memenuhi keinginan pamer yang tidak terbatas.

Pada awalnya, riya adalah perbuatan memamerkan kebaikan dan ketaatan di hadapan orang. Jika tak berusaha menyembuhkan diri dengan ikhlas ( memurnikan tujuan semua ketaatan hanya untuk Allah semata ) dan tawadhu ( sikap rendah hati ) maka penyakit riya bisa bertambah parah yang akhirnya bangga memamerkan kemaksiatan. Pada tingkat ini orang akan bangga dengan hasil curiannya, hilang pula rasa malunya. Itu berarti hancurlah imannya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah melindungi kita dari penyakit syirik kecil ini.

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 11  Juni  2011 / 9 Rajab 1432


ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Aqidah, Bachtiar Nasir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s