Dilema Pendidikan Karakter


Oleh : Erma Pawitasari

Ibu Erma, yayasan kami ingin membuka sekolah berkarakter. Kami mendapatkan tawaran untuk belajar pendidikan karakter di sebuah universitas ternama di Australia dan Amerika. Di antara kami ada yang tidak setuju, sementara sebagian lainnya menerima dengan alasan bahwa kami akan mengambil moral-moral yang bersifat universal ( seperti kejujuran, tolong-menolong ). Yang penting adalah belajar metodenya. Bagaimana menurut Ibu?

Terima kasih atas jawabannya.

Tora

Jawaban :

Bapak Tora yang dimuliakan Allah, alhamdulillah kita semua patut bersyukur bahwa pemerintah melalui menteri pendidikan telah mencanangkan pentingnya pendidikan karakter. Semoga niat baik ini bisa menyelesaikan masalah moral di negeri ini.

Namun, sebagai umat Islam, kita tetap harus kritis. Pendidikan karakter sedang menjadi trend di Barat. Terjadinya krisis moral pada masyarakat berpendidikan (educated people) membuktikan bahwa pendidikan yang diberikan selama ini merupakan pendidikan yang rusak. Barat, dengan sekulerismenya, berusaha mencari solusi terhadap kecacatan pendidikan ini dengan menelorkan ide “pendidikan karakter” ( disebut juga “pendidikan nilai” atau “pendidikan moral” ). Pertanyaannya, seperti apakah pendidikan karakter model Barat ini, dan sesuaikah dengan yang dimaksud Islam?

Problematika Moral di Barat

Dalam masyarakat yang mengusung sekulerisme dan pluralisme, agama tidak memiliki wewenang untuk menentukan standar nilai (baik dan buruk tidak ditentukan oleh agama). Argumentasinya, nilai kebaikan dalam satu agama berbeda dengan agama yang lain. Misalnya, dalam agama Katolik atau Budha, pernikahan bagi pastor/biksu merupakan hal yang tercela dan dilarang. Sementara dalam agama Islam, menikah adalah salah satu jalan mencari pahala/keridloan Allah, berlaku untuk siapapun termasuk ustadz dan kyai. Seseorang yang meyakini bahwa pernikahan bisa mengganggu ibadah pasti akan menolak keyakinan yang menganggap pernikahan sebagai ibadah. Jika Negara mengadopsi standar nilai dari salah satu agama, bisa saja berarti Negara menolak kebenaran dari agama lainnya. Hal ini bertentangan dengan prinsip sekulerime dan pluralisme.

Jika  standar nilai agama ditolak, maka apa yang layak dijadikan standar? Mencuri itu benar atau salah? Jika salah, maka apa yang dilakukan oleh situs Wikileaks, yakni mencuri dokumen-dokumen kejahatan perang dan membongkar kekejaman para penguasa jahat dunia ini merupakan keburukan dan harus kita kecam. Tapi, bukankah pencurian dokumen ini bisa menghentikan kekejaman penguasa jahat dan menyelamatkan banyak jiwa? Di sinilah masyarakat Barat menghadapi dilema dalam menentukan apa yang disebut benar dan salah, baik dan buruk. Isaiah Berlin, salah seorang pemikir Barat modern, menulis:

Values may clash in within the breast of a single individual . . . .  Both liberty and equality are among the primary goals pursued by human beings through many centuries. But total liberty for the wolves is death to the lambs. These collisions of value are the essence of what they are . . . .  Some among the great goods cannot live together. ( 1990 : 12 )

[ Arti : Moral bisa saling bertentangan dalam diri seseorang. Kebebasan dan persamaan hak merupakan kebaikan yang telah diperjuangkan selama berabad-abad. Tapi kebebasan bagi serigala adalah kematian bagi kambing. Perang moral inilah esensi dari moral itu sendiri. Beberapa kebaikan memang tidak bisa hidup berdampingan. ]

Ungkapan Berlin ini mencerminkan kebingungan yang dialami pada cendikiawan Barat. Alih-alih menyadari kesalahannya, Barat malah menganggap kebingungan ini sebagai proses pendewasaan diri. Jikapun ada kebaikan yang harus dikorbankan demi mencapai kebaikan yang lain, itu adalah hal yang tidak mungkin dihindari. Itulah mengapa membunuh ribuan warga sipil Irak dianggap benar, membantai warga Palestina juga bisa dianggap benar.

Maka, Barat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter itu bukanlah untuk menanamkan nilai tertentu, tetapi untuk mengajari siswa bagaimana menemukan standar nilai untuk dirinya sendiri ( sesuai dengan kepribadian dan kondisinya masing-masing ). Remaja yang berzina karena pengaruh lingkungannya bukanlah remaja yang berkarakter. Namun, dia yang melakukannya setelah menimbang baik-buruknya secara matang ( menurut standar/keyakinan yang dipilihnya sendiri ) dan siap dengan segala resikonya dianggap sebagai remaja yang berkarakter.

Dengan demikian, kita harus sangat waspada dengan metode pendidikan karakter yang diajarkan di universitas Barat. Bagi umat Islam, standar baik dan buruk sudah jelas, yakni menurut apa yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Anak-anak Muslim tidak perlu mencari-cari nilai lagi. Yang diperlukan adalah menanamkan nilai-nilai Islam dan mengokohkan akidah Islam agar keyakinan anak-anak kita terhadap kebenaran Islam tidak mudah digoyahkan.

Demikian sedikit masukan dari saya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. ■

Erma Pawitasari, M.Ed , Kandidat Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibnu Khaldun  Bogor ;  Direktur Eksekutif Andalusia Islamic Education  & Management Services (AIEMS) ;  Alumnus School of Education , Boston University

Sumber : Konsultasi Pendidikan, Suara Islam, Edisi 105, 16 Shafar – 1 Rabiul Awwal 1432 H / 21 Januari – 4 Februari 2011 M

Gambar : Buku karya Dr. Adian Husaini, http://www.adianhusaini.com

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Erma Pawitasari, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s