Israf dan Tabdzir 


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Berkaitan dengan sikap boros ( israf dan tabdzir ), ada sementara kalangan yang mengatakan bahwa haram hukumnya membelanjakan harta dalam jumlah besar meskipun dalam hal-hal yang mubah.

Pernyataan ini didasarkan pada riwayat yang dikeluarkan oleh sahabat Abdullah bin Umar. Beliau mengatakan pernah Rasulullah melewati Saad yang ketika itu sedang berwudhu. Beliau berkata, “Untuk apakah berlebih-lebihan ini wahai Saad?”. Maka jawabnya, “Apakah dalam berwudhu ada berlebih-lebihan?”. Jawab Rasul, “Ya. Sekalipun kamu berada di sungai yang mengalir”. Benarkah anggapan di atas?

Jawaban:

Secara etimologis, boros dalam bahasa Arabnya adalah israf atau tabdzir. Israf bentukan dari akar kata sarafa, yang artinya melalaikan, mengabaikan, tidak mengetahui, melewati / melalui, dan memakan daunnya ( sarakat as-surfatu as-sajarah ). Dapat pula diartikan melampaui batas ( jawadza al-had ). Jika disebut asrafa al-mal maka sama dengan badzarahu yang artinya memboroskan atau membuang-buang. Sedangkan pelakunya disebut musrifin.

Sinonimnya adalah al-tabdzir, yang berasal dari akar kata badzara. Artinya al-habba yang berarti menabur ( benih ), menanam, menumbuhkan, tumbuh-tumbuhan, menyebarkan, memboroskan dan menghambur-hamburkan harta. Orang yang menghambur-hamburkan harta disebut al-mubadziru atau al-mubadzriku. Jika kata tabdzir dipergunakan dalam kalimat: badzara al-mal tabdziran ( menghambur-hamburkan harta ), maknanya satu akar kata dengan israfan dan badzratan.

Dalam al-Quran kata israf dan musrifin disebut sebanyak 23 kali dalam 21 ayat. Sedangkan al-tabdzir disebut dalam QS. Al-Isra’ [17] ayat 26-27 sebanyak 3 kali. Kata israf dan musrifin disebutkan dalam al-Quran dalam banyak arti. Al-Quran menyatakan kata musrifin dengan makna mu’ridin ‘an dzikrillah ( melalaikan dzikir kepada Allah, QS. Yunus [10] : 12 ), orang yang keburukannya melebihi kebaikannya ( QS. Al-Mukmin [40]: 43). Kata musrifin bisa pula diartikan mufsidin ( pembuat kerusakan, QS. Asy-Syuara [26] : 151-152 ).

Hanya saja kata israf lebih banyak bermakna infaq ( membelanjakan harta ) untuk perkara maksiyat. Dengan demikian jika kata israf disebut bersamaan dengan kata infaq, maknanya adalah memberikan harta untuk tindakan maksiyat. Sedangkan al-tabdzir bermakna tunggal yaitu menghambur-hamburkan harta secara boros.

Para ulama telah sepakat bahwa secara  syar’i makna kata israf dan al-tabdzir adalah membelanjakan harta untuk perkara-perkara yang dilarang Allah. Israf dan tabdzir dalam pandangan Islam bermakna al-tabdzir-linfaq fil haram wal ma’asiy ( infaq / membelanjakan uang dalam hal yang haram dan maksiyat ).

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menulis bahwa yang dimaksud israf adalah membelanjakan harta di jalan selain Allah, dan barang siapa yang berpaling dari ketaatan kepada Allah Aza wa Jalla disebut kikir ( al-iqtar ), dan barang siapa yang membelanjakan harta dalam rangka ketaatan kepada Allah disebut al-qawam. Ibnu Abas berkata: “Barang siapa yang membelanjakan seratus ribu dirham dalam ketaatan bukanlah israf, sebaliknya barang siapa yang membelanjakan satu dirham dalam kemaksiatan adalah israf. Dan siapa yang mencegah dirinya dari membelanjakan hartanya maka ia kikir ( al-qatr )”. Senada dengan pendapat itu adalah pendapat Mujahid, Ibnu Zaid dan selain dari keduanya. Demikian pula pendapat Ibnu Mas’ud ra ketika menafsirkan surat al-Isra’ [17] ayat 26-27.

Qatadah mengatakan bahwa “menghambur-hamburkan harta adalah menginfakkannya dalam kemaksiatan kepada Allah”. Mujahid juga mengatakan “andaikan ada seorang laki-laki menafkahkan harta sebesar gunung ini dalam ketaatan kepada Allah, tidaklah ia tergolong pemboros. Jadi kalau dia menafkahkan satu dirham dalam kemaksiatan kepada Allah maka dia memang tergolong pemboros”. Dengan demikian, sedikit atau banyaknya harta yang dikeluarkan bukan menjadi ukuran penghamburan, melainkan dilihat dalam hal apa harta itu dibelanjakan.

Oleh sebab itu adanya pendapat yang mengharamkan orang-orang yang membelanjakan hartanya dalam jumlah yang besar pada aktivitas yang mubah karena termasuk dalam israf dan tabdzir adalah keliru. Kekeliruan pendapat semacam ini terjadi sehingga mengharamkan perkara-perkara yang sebenarnya dihalalkan disebabkan ketidakmampuan untuk membedakan antara makna bahasa dan makna syara’ terhadap kata israf dan tabdzir.

Padahal Allah telah melarang kita untuk mengharamkan yang halal dan sebaliknya ( QS. Yunus [10] : 59-60 ). Ayat-ayat yang menyatakan tentang israf dan tabdzir amat jelas. Semuanya memiliki arti membelanjakan harta untuk perbuatan ( perkara ) yang haram.

Adapun maksud dari larangan Allah agar tidak melampaui batas ( musrifun ) dalam banyak ayat al-Quran adalah apabila manusia melakukan sesuatu yang tidak dihalalkan Allah atau yang diharamkannya. Ini karena yang berhak untuk menentukan batas kebutuhan hidup masyarakat hanyalah Allah semata, bukan manusia. Walhasil, penafsiran israf dan tabdzir menurut makna bahasa tidak dapat dibenarkan. Yang seharusnya dilakukan adalah menafsirkan berdasarkan makna syara’ yang ada dalam nash-nash al-Quran. Wallahu A’lam bi shawab.

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 85,  5 – 19 Maret 2010 M / 19 Rabi’ul Awwal – 3 Rabi’ul Akhir 1431 H

KH. A Cholil Ridwan, Lc,  Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain Jakarta
Gambar : http://www2.muslimedia.web.id/buku-islam/stop-boros

 ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Akhlak and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Israf dan Tabdzir 

  1. bermanfaat__________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s