Zikir Akbar


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya ingin meminta pendapat tentang orang-orang Islam yang tidak menyukai zikir akbar. Kata mereka, zikir akbar mengganggu ketertiban umum dan Islam tidak mengajarkan demikian. Padahal, menurut saya, kegiatan seperti itu bagus juga buat syiar Islam. Mohon penjelasan, terima kasih.

Sofyan, Jakarta

Jawaban :

Islam adalah agama damai dan selamat. Artinya, Islam yang dikerjakan umat Muslim harus memberikan kedamaian bagi pelaku dan lingkungan sosialnya. Orang lain harus selamat dari gangguannya sebagaimana digambarkan hadis Bukhari berikut ini:

Dari Abdullah bin ‘Amru, Nabi SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” ( HR Bukhari-9 ).

Apalagi, aktivitas berzikir yang bertujuan mendapatkan ketenangan jiwa, seharusnya suara dan cara berzikir jangan menimbulkan keresahan orang lain. Karenanya Rasulullah berpesan:

Dari Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah bahwa Sa’d bin Malik berkata, Saya mendengar Nabi SAW bersabda: “Sebaik-baik zikir adalah yang tersembunyi dan sebaik-baik rezeki adalah yang sekadar mencukupi.” ( HR Ahmad-1537 ).

Jangan alergi menerima masukan dari sesama Muslim. Mungkin saja masukan dari mereka betul adanya. Sebab, ada petunjuk Rasulullah tentang larangan menyusahkan orang lain dalam berzikir dan menjadikan majelis zikir sebagai wadah yang membahagiakan orang lain.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan dan mencari-cari majelis zikir. Jika mereka mendapati suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka memanggil teman-temannya seraya berkata, kemarilah terhadap apa yang kalian cari. Lalu, mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi. Maka, Rabb mereka bertanya, padahal Dia lebih tahu dari mereka: ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka menyucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihat-Ku? Para malaikat menjawab: ‘Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab: ‘Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi menyucikan Engkau.’ Allah berfirman: ‘Lalu apa yang mereka minta?’ Para malaikat menjawab: ‘Mereka meminta surga.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Belum demi Allah mereka belum pernah melihatnya.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Jika mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.’ Allah berfirman: ‘Lalu, dari apakah mereka meminta berlindung?’ Para malaikat menjawab: ‘Dari api neraka.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: ‘Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.”’ Rasulullah melanjutkan: “Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.”’ Beliau melanjutkan: “Salah satu dari malaikat berkata: ‘Sesungguhnya di antara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan?’ Allah berfirman: ‘Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraan bagi temannya.”‘ ( HR Bukhari-5929 ). Wallahu a’lam bish shawab. .

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 7  Juni  2011 / 5 Rajab 1432

Gambar : http://faizz09.student.ipb.ac.id/


ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Ibadah, Upacara Keagamaan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s