Tafsir Kata ‘Jahiliah’


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apakah benar tafsir kata ‘jahiliah’ adalah kebodohan. Apakah sudah ada istilah jahiliah pada zaman jahiliah dahulu. Mohon jelaskan pula contoh-contoh jahiliah menurut Al-Quran. Terima kasih.

Fatih, Surabaya

Jawaban :

Terminologi ‘jahiliah’ muncul di dunia setelah periode Islam. Al-Quranlah yang memunculkan istilah ini. Karena itu, tak satu pun kamus bahasa yang mengangkat istilah jahiliah pada periode pra-Islam. Istilah jahiliah dalam Al-Quran kemudian dipopulerkan oleh Nabi SAW, seperti ungkapan beliau kepada sahabat Abu Dzar: “Sungguh masih ada dalam dirimu unsur kejahiliahan.”

Perkataan Rasulullah itu diriwayatkan Imam Muslim dari Abdurrahman bin Suweid, berkenaan dengan nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar agar memperlakukan budaknya bukan dengan cara-cara jahiliah. Syariat Islam yang dipesankan Rasulullah adalah memerintahkan Abu Dzar agar memberi makanan dan pakaian para budak seperti yang dimakan dan dipakai oleh majikan, juga larangan membebani mereka di luar batas kemampuan. Dianjurkan pula menolong dan meringankan beban pekerjaan mereka.

Kata jahiliah dalam Al-Quran bukan berasal dari akar kata ‘jahl’ yang berarti bodoh, tapi berasal dari kata ‘jaahil’ yang bermakna bertentangan dengan Islam. Karena itu, makna jahiliah menurut Al-Quran bukan berarti bodoh / tidak berpengetahuan, tetapi yang dimaksud adalah tipis dan rentannya keyakinan seseorang yang dibarengi kelemahan nalar akal sehatnya serta gampang terpengaruh. Kata jahiliah disebutkan sebanyak 24 kali dalam Al-Quran dan dalam hadis sekitar 500 kali.

Dalam Al-Quran ada dua kelompok besar kejahiliahan:

1. Jahiliah pemikiran dan keyakinan

a.  Zhannul jahiliyyah / prasangka jahiliah ( QS Ali Imran [3] : 154 ). Adalah prasangka buruk sebagian orang munafik kepada Allah dan Rasul-Nya pada Perang Uhud sehingga mendatangkan kecemasan dan ketakutan serta keguncangan pikiran dalam menghadapi musuh esok hari yang membuat mereka tak dapat tidur malam. Di sisi lain, ada segolongan Mukmin yang mendapatkan nikmat rasa kantuk di malam sebelum peperangan karena mereka yakin akan kepastian pertolongan Allah.

b. Hukmul jahiliyyah / sistem jahiliah ( QS al-Maidah [5] : 48-50 ). Adalah sikap mental dan keyakinan bahwa sistem dan aturan yang diturunkan Allah ( Al-Quran ) tidak tepat bagi kehidupannya sehingga merasa perlu untuk membuat aturan sendiri yang sesuai dengan selera-selera rendah dan akal terbatasnya.

2. Jahiliah perilaku, tindakan, dan etika

a. Tabarrujul jahiliyyah / berhias ala jahiliah ( QS al-Ahzab [33] : 32-33 ). Adalah bergaya hidup dan berpenampilan dengan tren jahiliah pertama, sehingga terkesan bahwa yang mereka lakukan sesungguhnya adalah jahiliah yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

b. Hamiyyatul jahiliyyah / gengsi jahiliah ( QS al-Fath [48] : 26 ). Adalah kebanggaan pada simbol-simbol bergengsi jahiliah ketimbang atribut-atribut ketakwaan sehingga melahirkan kesombongan dan mempertontonkan kelemahan akalnya sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 1 Juni  2011 / 28 Jumadil Akhir 1432


ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Al-Quran, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s