Membatalkan Wudhu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz yang terhormat. Pada acara-acara pesta yang dekat waktu shalat, saya sering ambil wudhu sebelum berangkat. Tujuannya, pada waktu shalat tiba, saya tidak perlu repot cari air. Pertanyaan saya:
1. Bagaimana bila kita telanjur makan dan minum, apakah wudhu jadi batal atau cukup kumur-kumur saja?
2. Pada saat mandi, bolehkah kita niat sekaligus untuk wudhu? Wassalam.

Kemas Abdul Hamid

Jawaban :

Pada dasarnya, ada enam hal yang membatalkan wudhu. Pertama, keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, baik berupa air kecil maupun air besar. Kedua, keluar angin dari dubur (kentut). Ketiga, hilang akalnya, baik karena gila, pingsan, mabuk, maupun karena tidur nyenyak sambil berbaring. Keempat, menyentuh kemaluan dengan tangan disertai syahwat, baik kemaluan sendiri maupun milik orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.”  ( HR Ibnu Majah dan disahihkan oleh al-Albani ).

Kelima, memakan daging unta. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya, “Apakah kami harus berwudhu karena makan daging unta? Nabi menjawab, “Ya. ( HR Muslim ). Dan keenam, bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan. Namun, mengenai bersentuhan kulit ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Apakah yang dimaksud dalam QS An-Nisa [4] ayat 43 itu termasuk anak, istri, ibu, saudara perempuan, atau seluruh perempuan. Dan para imam mazhab juga berbeda pendapat dalam menyikapinya, seperti Imam Syafii, Maliki, Hambali, dan Abu Hanifah.

Adapun makan dan minum, tidak membatalkan wudhu kendati dengan sengaja. Sebab, makan dan minum pernah dilakukan Rasul SAW. Dalam kitab Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani disebutkan bahwa Rasul SAW pernah makan daging kambing dan sawiq ( sejenis gandum ) dan beliau tidak berwudhu lagi. Lihat hadis 207-209.

Sedangkan untuk menggantikan wudhu dengan mandi, sebaiknya dilakukan dengan niat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar dan kecil. Dengan mandi besar, seluruh tubuh, termasuk anggota wudhu, wajib dibasahi. Jika mandi biasa, dikhawatirkan anggota wudhu tidak terbasahi. Wallahu a’lam.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 21  Juni  2011 / 19 Rajab 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s