Zakat Perniagaan


Oleh : Ust. Budi Hata’at

Ustadz, apa perhitungan zakat itu dikeluarkan dari total modal yang dibelanjakan atau dari hasil yang diperoleh ? Mohon dijelaskan dengan dalil / maraji’-nya. Jazakallah.

+628122456***

Jawaban :

Hal yang Saudara tanyakan adalah berkaitan dengan masalah zakat perniagaan. Wajibnya zakat perniagaan ini di antaranya bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi dari Samurah bin Jundub : ”Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan kami mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kami sediakan untuk perdagangan”. ( HR Abu Dawud dalam Sunan-nya kitab az-Zakat 1/357 (1335) dan ad-Daruquthni dalam Sunan-nya bab Zakat Harta Dagangan kitab Zakat 2/128 ).

Barang-barang yang disediakan untuk perniagaan ialah seluruh jenis barang yang dimiliki secara nyata dan memang diperuntukkan untuk dagang atau usaha. Sehingga, apa yang dizakati dari zakat perniagaan ialah perniagaannya itu sendiri ( usaha ), sehingga secara keseluruhan harta perniagaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha dihitung setelah mencapai nishab ( ukuran minimum wajib zakat ) dan haul ( ketentuan waktu wajib dikeluarkannya zakat ) –nya. Termasuk modal dan keuntungan yang diperolehnya. Dua hal itu bagikan pohon dengan buahnya, tidak bias dipisahkan.

Adapun yang dimaksud modal yang wajib dizakati, menurut Syaikh Qaradhawi dalam Fiqhuz Zakat, adalah yang berupa kekayaan lancar ( likuid ) atau berkembang ( yang diperjualbelikan ) , adapun barang yang tetap ( tidak diperjualbelikan ) seperti bangunan tidak termasuk yang dihitung harganya dan tidak dikeluarkan zakatnya. Seorang pedagang ( pengusaha ) apabila telah tiba saatnya untuk berzakat, yaitu sudah mencapai haul dan mencapai nishab, hendaklah memperhitungkan seluruh kekayaan usahanya mulai dari modal, simpanan dan piutang yang diharapkan bisa kembali, juga labanya. Besarnya zakat perniagaan ini ialah sebesar 2,5 % atau 1/40. Barang perniagaan yang ada pada saat jatuh tempo dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku saat itu, maka zakat yang dikeluarkan juga berupa uang.

Demikian rangkuman pendapat kami. Sebagai rujukan SAudara bias melihat di antaranya pada kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, kitab Al Fiqhul Islamiyah wa Adilatuh karya Prof. Dr. Wahbah Al Zuhaili, serta Fiqhu Zakat karya Syaikh Yusuf Qaradhawi. Mudah-mudahan membantu memperjelas masalah yang saudara tanyakan dan semoga usahanya semakin maju dan berkah. Amin ya Allah.

Sumber : Fiqih Sunnah, Galamedia, Jumat, 6 Mei 2005   / 27 Rabiul Awal 1426 H

Ustadz Budi Hata’at, Lc , Pembina Yayasan Riyadhus Sunnah, Bandung

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Budi Hata'at, Fiqih, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s