Bacaan Makmum dalam Shalat


Oleh : M Quraish Shihab

Jika kita mendengar ayat-ayat suci Al-Quran dibacakan, bukankah kita sebagai pendengar harus menyimak dan diam ? Dalam ibadah shalat, terutama Subuh, Magrib, dan Isya, jika seorang imam membacakan Al-Fatihah dan ayat-ayat setelah itu, bukankah kita sebagai makmum juga harus menyimak dan mendengarkan dengan khusyuk.

Jika demikian bukankah tiga waktu shalat di atas dalam rakaat pertama dan kedua makmum harus mendengar dan menyimak secara khusyuk dan tidak perlu lagi membaca Al-Fatihah pada dua rakaat pertama dalam 3 waktu shalat tersebut. Bagaimana pendapat Ustadz, saya mohon penjelasan.

Heydar, Tuban, Bali

Jawaban :

Ulama berbeda pendapat tentang makmum menyangkut bacaan Al-Fatihah. Imam Ahmad menilai bahwa seseorang – termasuk makmum – hendaknya tidak lagi membaca Al-Fatihah ketika telah mendengar imam membacanya, berdasar firman Allah,”Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah ia dengan tekun, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( QS Al-Araf [7] : 204 ). Juga berdasar Hadis Nabi SAW : “Siapa yang shalat di belakang imam maka bacaan imam menjadi bacaan pula baginya.” Juga sabda beliau: “Imam dijadikan untuk diteladani, jika dia bertakbir, maka bertakbir pulalah dan jika dia membaca maka dengarkanlah.” ( HR Muslim dari Abu Hurairah ).

Riwayat lain menyatakan bahwa Nabi pernah ketika memimpin shalat Dhuhur menegur seorang makmum yang membaca surah Sabbihisma ( HR Bukhari dan Muslim melalui Imran bin Hushain ). Ini menunjukkan bahwa dalam shalat yang tidak dengan suara keras pun makmum tidak perlu membaca ayat Al-Quran, karena imam telah membacanya.

Memang bisa dan baik bila sang makmum membaca Al-Fatihah pada saat imam terdiam sebelum membaca surah sesudahnya, bila imam telah ruku’ sebelum makmum selesai membaca, maka Fatihah itu dilanjutkan pada saat yang sama di rakaat kedua. Pendapat Imam Abu Hanifah itu tidak sejalan dengan pandangan mayoritas ulama, walaupun dalam rinciannya mereka berbeda pendapat.

Menurut mereka salah satu rukun shalat adalah membaca Al-Fatihah berdasar Hadis Nabi yang menyatakan : “Tidak ada ( sah ) shalat tanpa membaca Al-Fatihah.” ( HR Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban ). Imam Syafi’i menyatakan bahwa membaca Al-Fatihah bagi makmum adalah wajib, baik bacaannya berdasar hapalan, atau melihat ke Mushaf, atau  bahkan diajarkan oleh seseorang. Kewajiban ini mencakup imam dan makmum, dalam shalat jahr, yakni dengan suara keras ( Magrib, Isya, dan Subuh ) maupun yang tidak dengan suara keras ( Dhuhur dan Ashar ) bahkan walau dalam shalat sunnah. Imam Syafi’i juga mengemukakan Hadis yang menyatakan bahwa satu ketika Nabi SAW melaksanakan shalat Subuh, setelah selesai beliau bersabda : “Saya dengar kalian membaca di belakang imam.” Mereka menjawab:”Benar wahai Rasul.” Nabi bersabda : “Janganlah lakukan itu, tetapi bacalah Al-Fatihah, karena tidak sah shalat bagi yang tidak membacanya. “ ( HR Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Hibban melalui Ubadah bin Shamit ). Demikian. Wa Allah a’lam

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 23 Januari 2004 /  1 Dzulhijjah 1424 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :


About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Fiqih, M.Quraish Shihab, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s