Hak Waris Anak tak Berbakti


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz Bachtiar yang dirahmati Allah, almarhum bapak saya pernah berwasiat untuk tidak memberikan hak waris kepada anak sulungnya karena anak ini tidak berbakti dan sering menyakiti hatinya. Juga tidak pernah menjenguk saat almarhum sakit. Apakah ini dibenarkan dalam agama Islam? Terima kasih.

Hamba Allah,
Bandung

Jawaban :

Berbakti dan menghormati kedua orang tua hukumnya wajib ( QS al-Isra [17] : 23 ). Tetapi, aturan orang tua bukanlah syariat yang wajib dijalankan jika bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya ( QS al-Ankabut [29] : 8 dan QS Lukman [31] : 15 ). Masalah suka dan tidak suka juga tidak dapat dijadikan sandaran hukum dalam kewarisan Islam.

Konsep harta dalam Islam adalah semua yang kita usahakan dalam bentuk barang atau jasa yang bermanfaat dan bernilai tidak lebih dari sekadar titipan Allah yang akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Karenanya, kepemilikan seseorang terhadap sejumlah harta terikat oleh batasan tertentu sehingga tidak serta-merta dapat melakukan apa saja yang diinginkan dengan hartanya tanpa memperhatikan hak orang lain.

Sedangkan konsep kepemilikan harta dalam Islam, di antaranya adalah sebagian dari harta yang dimiliki ada milik umum dan orang lain. Milik umum harus dikeluarkan dengan mekanisme zakat, misalnya, sedangkan milik orang lain di antaranya adalah ahli waris. Karena itu, hukum berwasiat dengan harta menjelang kematian tidak boleh melebihi 1/3 nilai total harta karena dikhawatirkan akan merugikan hak ahli waris.

Dalam hukum kewarisan Islam, ada tiga hal yang dapat menggugurkan hak seorang ahli waris, yaitu pembunuhan, berbeda agama, dan perbudakan. Adapun uquq al walidain (membangkang kepada kedua orang tua) sama sekali tidak menggugurkan hak waris anak, selama anak tersebut tidak membunuh orang tuanya atau keluar dari agama Islam (murtad). Harapannya adalah anak tersebut akan sadar, bertobat kepada Allah SWT, lalu berbakti kepada kedua orang tuanya sepeninggal mereka. Jadi, wasiat almarhum itu tidak harus dilaksanakan karena bertolak belakang dengan syariat kewarisan Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 11 Mei  2011 / 7 Jumadil Akhir 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s