Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Pak Ustadz, dalam kasus Ruyati, menurut pandangan Islam apakah boleh memindahkan jenazah yang telah di kubur di suatu negara ke negara asal mayit?

Jawaban :

Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah menjelaskan, menurut Syafi’iyyah, memindahkan jenazah dari satu daerah ke daerah lain adalah haram, kecuali jika dekat dengan Makkah, Madinah, atau Baitul Maqdis. Jika tempat jenazah dekat ketiga tempat itu, maka boleh dipindahkan ke salah satu dari tiga tempat itu.

Imam Nawawi dalam al-Minhaj mengatakan, “Membongkar mayat setelah dikuburkan untuk dipindah karena tujuan lainnya adalah haram, kecuali dalam keadaan darurat, seperti mayat dikuburkan sebelum dimandikan, dikuburkan di tanah atau dengan kain kafan hasil ghasab / curian, atau dikuburkan dalam keadaan menghadap ke selain kiblat, atau ada harta yang terjatuh di kuburan itu.”

Menurut Malikiyah boleh memindahkan jenazah jika dikhawatirkan terbawa arus laut, khawatir dimangsa hewan buas, memudahkan keluarga menziarahinya, atau ke dekat tempat tinggal keluarganya, atau berharap keberkahan dan maslahat lain di tempat barunya, dengan syarat tak merusak kehormatan jenazah.

Menurut Hanafiyah makruh hukumnya, diperbolehkan memindahkan jenazah jika belum dimakamkan, itu pun apabila jaraknya tidak melebihi satu atau dua mil saja. Akan tetapi, jika jenazah telah dimakamkan maka hukumnya haram memindahkannya kecuali ada alasan yang telah disebutkan di atas. Menurut Hanabilah menguburkan jenazaah di mana mayat meninggal dunia, inilah yang dikerjakan Rasulullah dan para sahabat beliau.

Dalam kasus Ruyati, ada dua hal yang harus dipertimbangkan: (1) Kepentingan jenazah dan ( 2) Kepentingan keluarga atau negara. Jika tujuannya adalah kepentingan jenazah Ruyati, berdasarkan pendapat Syafi’iyyah sebaiknya biarkan jenazah Ruyati di Makkah di dekat makam Khadijah di Makkah yang mulia. Kecuali jika ada kepentingan otopsi karena kaitannya masalah hukum atau kepentingan orang banyak. Jika untuk kepentingan keluarga dan negara maka bukan domain saya untuk menjelaskannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 23  Juni  2011 / 21 Rajab 1432

ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Mencampur Kuburan Muslim dan Non-Muslim
  2. Membaca Al-Quran di Kuburan
  3. Memperlakukan Makam
  4.  Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati
  5. Membaca Yasin untuk Mayat
  6. Tuntunan Ziarah Kubur
  7.  Persamaan Alam Kubur dengan Kuburan
  8.  Jangan Terlalu Salahkan Diri Sendiri
  9. Wasiat  Menguburkan Mayat
  10. Membaca Al-Quran di Kuburan , Bolehkah ?
  11.  Masjid  di  Atas Kuburan
  12. Shalat Jenazah di Kuburan
  13. Hajatan  Kematian
  14. Mengurus Jenazah yang Terkena AIDS
  15. Orang  yang Berhak  Memandikan Jenazah
  16. Wanita Shalat Jenazah
  17.  Shalat Jenazah Berulang
  18.  Mati Bunuh Diri
  19.  Uang Duka
  20.  Mengubur Jenazah Malam Hari
  21. Membuka Tali Kafan
  22. Mengubur Jenazah di Laut
  23. Azan Ketika Penguburan Mayat

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati

  1. Info yang bagus nie
    mampir ya ke
    http://bloggerkerenz.blogspot.com
    ditunggu ya,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s