Tafsir Ikhlas


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, berbuat ikhlas menurut Al-Quran itu bagaimana sih ? Apakah sama dengan ikhlas dalam ucapan kita sehari-hari? Misalnya, saya sudah ikhlas maafkan kamu, atau saya sudah ikhlaskan semua masalah ini. Mohon penjelasan, terima kasih.

Andi Fatma, Makassar

Jawaban :

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan ) agama.” ( QS Az-Zumar [39] : 11 )

Berbuat ikhlas menurut Al-Quran umumnya berbeda dengan perkataan ikhlas dalam bahasa keseharian. Ungkapan ‘saya ikhlas maafkan kamu’ atau ‘saya sudah ikhlaskan semua masalah ini’ biasanya berkonotasi rela, artinya saya sudah rela memaafkan kamu. Kerelaan biasanya didasari oleh persepsi dan selera sendiri bukan sesuai keinginan Allah dan aturan-aturan Allah. Dinamakan surah Al-Ikhlas karena di dalamnya dijelaskan bentuk ikhlas yang dimaksud Allah berikut tahapannya.

Inti surat Al-Ikhlas adalah pemurnian ibadah kepada Allah. 1. Katakanlah, “Dialah Allah, Yang ‘Ahad’.  2. Allah adalah Ash-Shamad Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu ( tumpuan semua kebutuhan dan pusat semua permintaan ). 3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. 4. Dan tidak ada seorang pun yang semisal dan setara dengan Dia.” ( QS Al-Ikhlas [112] : 1-4 )

Al-Ikhlash ( masdar / bentuk kata jadian ), berasal dari kata akhlasha ( bentuk mazid / imbuhan ). Akhlasha berasal dari khalasha ( mujarrad / tanpa imbuhan). Khalasha artinya bening, jernih, tak bernoda ( shafa’ ). Khalashal ma’a minal kadar ( air itu jernih dari keruh ). Dzahabun khalish ( emas murni ), emas yang tak bercampur partikel lain. Labanun khalish ( susu murni ), susu yang tak bercampur darah atau kotoran hewan. Hadza tsawbun khalish ( kain ini suci dari najis ).

Definisi ikhlas adalah segala bentuk ketaatan yang dilakukan seorang mukallaf ( usia yang terbebani hukum ) murni karena Allah semata, tak sedikit pun mengharapkan pujian manusia dan ucapan terima kasih, tidak pula mengharapkan manfaat keagamaan atau demi menjauhi mudharat / bahaya keduniaan. ( Abdussalam Al-‘Izz )

Berniat ikhlas dalam ketaatan berarti tidak mencari perhatian orang lain apalagi mengharapkan pujian manusia. Inilah inti beragama, di mana segala hal dimotivasi semata-mata karena Allah, dikerjakan demi Allah dan tujuan akhirnya hanya untuk Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 25 Mei  2011 / 21 Jumadil Akhir 1432

■ Bachtiar Nasir, Lc. , Pimpinan Pusat Ar-Rahman Quranic Learning Center ( AQL ); Alumnus Madinah Islamic University, Saudi Arabia
Pic. © pemaloe.wordpress.com

 ΩΩΩ

 Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Al-Quran, Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s