Bekerja di Perbankan Ribawi


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Allah SWT mengharamkan riba. Bekerja / bermata pencaharian meribakan / membungakan uang itu haram. Apakah bekerja untuk lembaga riba / perbankan itu haram?.
Apakah sudah ada fatwa pengharaman terhadap pekerjaan di lingkungan riba / perbankan?.

Agung Sedayu

Jawaban:

Dalam pembahasan fikih Islam, akad kerja termasuk dalam bab ijarah ( Sewa-menyewa dan kompensasi jasa ). Menurut syariat Islam, yang dimaksud dengan ijarah adalah akad atas manfaat atau jasa dengan suatu kompensasi ( ‘iwadh ). ( Lihat Kitab Fikih Sunnah bab Ijarah, karya Sayyid Sabiq ). Dalam akad ijarah, pihak yang mempekerjakan disebut musta’jir ( majikan ), sedangkan pihak yang bekerja atau mengerahkan tenaganya disebut ajir ( pekerja / buruh ).

Akad ijarah terikat dengan rukun-rukun ijarah dan syarat-syarat sah ijarah. Salah satu syarat sah ijarah adalah manfaat barang atau jasa yang diakadkan haruslah manfaat yang diperbolehkan ( mubah ), bukan yang diharamkan. Jadi tidak diperbolehkan mengontrak / memperkerjakan seorang pekerja / buruh ( ajir ) untuk memberikan jasa yang diharamkan. Sehingga, tidak diperbolehkan mempekerjakan seorang ajir untuk mengirim minuman keras ( khamr ) kepada pembeli, serta memproduksinya atau untuk mengangkut babi dan bangkai. Hal ini didasarkan atas hadits dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA:
“Rasulullah SAW melaknat dalam hal khamr sepuluh pihak: yang memerasnya, yang diperaskan, peminumnya, yang membawakan, yang dibawakan, yang menuangkan, penjualnya, yang memakan harganya, yang membeli dan yang dibelikan”  ( HR. At Tirmidzi )

Tidak diperbolehkan juga ijarah atas pekerjaan yang termasuk aktivitas ribawi karena itu merupakan ijarah atas manfaat yang haram. Imam Muslim RA telah mengeluarkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Rasulullah SAW melaknat orang-orang yang memakan riba , yang memberi riba, penulisnya dan dua orang saksinya. Dan Beliau bersabda: mereka sama saja”

Adapun bekerja di lembaga keuangan / perbankan konvensional ( yang beroperasi dengan riba atau bunga ), menurut Yusuf Sabatin dalam kitab al Buyu’ al Qadimah wa al Mu’ashirah wa al Burshat al Mahaliyyah wa ad Duwalihay  harus dilihat:

Pertama, jika aktivitas mereka adalah bagian dari aktivitas riba, maka seorang Muslim diharamkan untuk terlibat di dalamnya. Misalnya menjadi direktur bank, akuntan, teller, dan semua aktivitas yang memberikan manfaat yang berkaitan dengan riba, bahkan terkait secara langsung maupun tidak.

Kedua, aktivitas-aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan riba, baik langsung atau tidak langsung, seperti penjaga pintu, security, cleaning service dan sebagainya, adalah diperbolehkan karena itu adalah kontrak kerja atas manfaat / jasa yang mubah. Juga karena pekerjaan tersebut tidak bisa disamakan dengan pekerjaan seorang pencatat riba dan saksinya.

Hukum yang sama berlaku bagi pegawai direktorat yang bekerja memberikan kredit kepada para pengusaha atau petani dengan bunga dan pegawai keuangan yang mengerjakan aktivitas yang termasuk riba. Semuanya adalah pegawai-pegawai yang hukumnya haram. Orang yang bekerja di dalamnya dianggap telah melakukan dosa besar karena berlaku atasnya bahwa ia penulis riba atau saksinya. Demikianlah, terkait dengan semua aktivitas yang diharamkan Allah, seorang Muslim haram menjadi pegawai di dalamnya.

Selain pendapat di atas, ada juga pendapat yang secara mutlak mengharamkan pekerjaan di lingkungan perbankan konvensional. Seperti Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ ( Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa ) Saudi Arabia. Dalam Fatwa Lajnah Daimah 15/41 disebutkan: ( seorang Muslim tidak boleh bekerja di bank yang bermuamalah dengan riba, meskipun pekerjaannya tidak langsung berkaitan dengan riba, tetapi karena dia menyediakan keperluan para pegawai yang bermuamalah dengan riba dan bantuan yang mereka perlukan untuk muamalah riba. Allah Ta’alaa berfirman: ( janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan ) ( QS Al-Maidah : 2 ).

Sejumlah ulama Saudi, seperti  Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad al-Utsaimin juga secara tegas mengatakan bahwa hukum bekerja di perbankan ribawi adalah haram. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh seorang guru besar di Fakultas Dakwah Islamiyah, Universitas Al Azhar Kairo, Dr. Musthafa Murad. ( lihat buku karyanya yang berjudul: “1001 Kesalahan Dalam Ibadah dan Muamalah” ). Wallahu A’lam Bi Shawab.

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 96, 20 Agustus – 17 September 2010 M / 10 Ramadhan – 8 Syawwal 1431 H

KH. A Cholil Ridwan, Lc,  Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain Jakarta

 ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Muamalah and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s