Bolehkah Memelihara Anjing?


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak Kiyai mohon penjelasan, bagaimana hukumnya orang yang memelihara anjing ? Karena sebagian ada yang mengatakan haram dan ada yang sunah.

Anto, Kebumen, Jawa Tengah

Jawaban:

Tidak ada dalilnya baik di dalam Al Qur’an maupun hadits yang menyebutkan bahwa memelihara anjing itu disunahkan. Sebaliknya, yang ada adalah pendapat yang mengharamkan memelihara anjing tanpa ada suatu keperluan dan memubahkan ( boleh ) jika ada keperluan tertentu. Itupun tidak semua anjing yang diperbolehkan, melainkan anjing yang terlatih ( Kalbu al Muallam ).

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi di dalam kitabnya, Al Halal wa Al Haram fi Al Islam menjelaskan bahwa termasuk salah satu hal  yang dilarang oleh Nabi ialah memelihara anjing di dalam rumah tanpa ada suatu keperluan. Menurut Al Qaradhawi adanya anjing dalam rumah seorang Muslim memungkinkan terdapatnya najis pada bejana dan sebagainya karena jilatan anjing itu. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila anjing menjilat dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah. ” ( HR. Bukhari )

Rumah yang di dalamnya dipelihara anjing juga tidak akan dimasuki oleh malaikat. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya: “Malaikat Jibril datang kepadaku, kemudian ia berkata kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun yang menghalang-halangi aku untuk masuk kecuali karena di pintu rumahmu ada patung dan di dalamnya ada korden yang bergambar, dan di dalam rumah itu ada pula anjing. Oleh karena itu perintahkanlah supaya kepala patung itu dipotong untuk dijadikan seperti keadaan pohon dan perintahkanlah pula supaya korden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan diperintahkanlah anjing itu supaya dikeluarkan”.  ( HR. Abu Daud, Nasa’i, Tarmizi dan Ibnu Hibban )

Adapun dalil yang melarang secara tegas bahwa memelihara anjing tanpa ada keperluan tidak diperbolehkan adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga hewan ternak, berburu dan menjaga tanaman, maka akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak satu qirath.” ( HR. Muslim )

Dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk memelihara ternak, atau berburu, maka akan dikurangi amalnya setiap hari sebanyak dua qirath.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Apakah dibolehkan memelihara anjing untuk menjaga rumah? Di dalam Kitab Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi berkata, “Diperselisihkan dalam hal memelihara anjing selain untuk tujuan yang tiga di atas, seperti untuk menjaga rumah, jalanan. Pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkan, sebagai qiyas dari ketiga hal tersebut, karena adanya illat ( alasan ) yang dapat disimpulkan dalam hadits, yaitu: Kebutuhan.”

Syekh Ibn Utsaimin dalam Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin menambahkan bahwa tidak semua rumah boleh memelihara anjing. Beliau berkata, “Dengan demikian, rumah yang terletak di tengah kota, tidak ada alasan untuk memelihara anjing untuk keamanan, maka memelihara anjing untuk tujuan tersebut dalam kondisi seperti itu diharamkan, tidak boleh, dan akan mengurangi pahala pemiliknya satu qirath atau dua qirath setiap harinya. Mereka harus mengusir anjing tersebut dan tidak boleh memeliharanya. Adapun kalau rumahnya terletak di pedalaman, sekitarnya sepi tidak ada orang bersamanya, maka ketika itu dibolehkan memelihara anjing untuk keamanan rumah dan orang yang ada di dalamnya. Menjaga penghuni rumah jelas lebih utama dibanding menjaga hewan ternak atau tanaman.”

Kesimpulannya, seorang Muslim dilarang memelihara anjing kecuali untuk berburu, menjaga hewan ternak atau tanaman. Boleh juga untuk menjaga rumah dengan syarat lokasi rumah itu berada di pedalaman dan dengan syarat tidak tersedia sarana yang lain. Tapi perlu diingat, tidak selayaknya seorang Muslim mengikuti cara orang-orang kafir; berlari bersama anjing, menyentuh mulutnya atau menciumnya yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Wallahua’lam bishawwab.

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 103, 11 Muharram – 2 Shafar 1432 H / 17 Desember 2010 – 7  Januari 2011 M

KH. A Cholil Ridwan, Lc,  Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain Jakarta

 ΩΩΩ

Entri Tekait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s