Shalat Jumat Hanya Hari Libur


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bolehkah mendirikan shalat Jumat di sebuah mushala ( 300 meter ada masjid ), tapi hanya saat hari Jumat libur. Alasannya, saat hari Jumat libur itulah banyak warga ada di rumah. Ketimbang shalat ke masjid, lebih baik bikin shalat sendiri di mushala. Jadi, seandainya dalam setahun hanya lima hari libur pada hari Jumat, maka hanya lima kali pula mushala itu dipakai untuk shalat Jumat. Bolehkah yang demikian itu? Mohon penjelasan dan dalilnya secara rinci.

Syafik,
Depok, Jawa Barat

Jawaban :

Masjid secara bahasa adalah ruang shalat atau tempat sujud badan manusia, jamaknya masajid. Secara terminologi dalam bahasan ahli fikih ada tiga ruang masjid yang lazim digunakan; (1) Jami’, yaitu ruang ibadah yang sengaja dibangun untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat karena Allah semata. (2) Mushala adalah ruang terbuka yang digunakan untuk mendirikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. (3) Zawiyah, artinya sudut / pojok, yang dalam bahasa Indonesia umumnya disebut mushala, adalah ruang sudut untuk didirikan shalat lima waktu yang tidak digunakan untuk shalat Jumat.

Shalat Jumat yang disyariatkan pada tahun pertama Hijriah dimulai setelah Rasulullah membangun Masjid Quba’ di perkampungan Quba’ dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Rasulullah dan para sahabat pertama kali melaksanakan shalat Jumat di sebuah lembah wilayah Bani Salim bin ‘Auf. Setelah didirikannya Masjid Nabawi di Madinah, seluruh kegiatan Muslimin termasuk shalat Jumat terpusat di Masjid Nabawi.

Shalat Jumat dapat dilakukan di tengah kota, di desa ( perkampungan ), di dalam masjid, di dalam gedung, di lapangan terbuka atau tempat lainnya. Seperti yang diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah mengirim surat kepada penduduk Bahrain yang isinya, “Lakukanlah shalat Jumat di tempat mana saja kalian berada.”

Mayoritas ulama ( Hanafiyah, Syafiiyah, Hanabilah ) memang tidak mensyaratkan shalat Jumat harus di masjid jami’ kecuali Malikiyah. Maksudnya jika dalam kondisi sulit menjangkau masjid jami’ terdekat dan ada uzur syar’i yang membenarkan untuk tidak mendatangi masjid jami’ terdekat seperti banjir besar, hujan sangat lebat, atau faktor alam lainnya, tertawan, jauh dari masjid jami’, maka silakan shalat Jumat di mana saja. Namun, jika dalam kondisi tak terhalang dan mudah menjangkaunya serta kondisi masjid jami’ terdekat masih dapat menampung jamaah hingga ke pelataran, maka jangan membuat jamaah baru di zawiyah agar tak menghilangkan maqasid syariah Jumat yang bertujuan mempersatukan umat setiap pekannya.

Dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa mendengar suara azan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur.” Ibnu Abbas ra ditanya tentang makna uzur ini, dan beliau menjawab, “Takut ( khauf ) dan sakit ( maradh ). ( HR Ibnu Majah-785 ). Hadis ini menegaskan pentingnya shalat berjamaah di masjid jami’ yang senantiasa dikumandangkan azan Jumat.

Abu Hurairah RA berkata, “Seorang buta ( tunanetra ) pernah menemui Nabi SAW dan berujar; ‘Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.’ Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah SAW untuk shalat di rumah. Ketika sahabat itu berpaling, Rasul kembali bertanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat ( azan )?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Benar.’ Rasul bersabda, ‘Penuhilah seruan tersebut ( hadiri jamaah shalat ) walau dengan merangkak’.” ( HR Muslim-1044 ).

Hadis ini menekankan agar jangan membuat sebuah aturan atau mencari kemudahan untuk menggantikan shalat jamaah di masjid jami’ dengan tempat-tempat lainnya, jika masih terdengar azan dari masjid jami’ terdekat, termasuk untuk waktu-waktu temporal ( tertentu / libur ). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 21 April  2011 / 17 Jumadil Awal 1432

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Shalat Jumat Hanya Hari Libur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s