Islam Tidak Mengenal Nikah Beda Agama


Oleh : KH Miftah Faridl

Saya seorang istri kedua ( 39 th ) dari seorang suami ( 50 th ) yang muallaf. Ia masuk Islam tahun 1996. Kami menikah tahun 1999 dan sudah dikaruniai seorang putri berusia 1,5 tahun. Istri pertamanya seorang wanita Katholik dari lahir sampai sekarang. Dari perkawinan mereka, lahir dua orang anak yang beragama Katolik.

Istri pertamanya sangat tidak setuju dengan perkawinan kami. Ia selalu menghalang-halangi suami saya untuk memberikan nafkan kepada saya dan anak saya. Suami saya tinggal di Bali dan saya tinggal di Jawa Timur. Bapak pengasuh, saya bertanya :

  1. Bagaimana hukumnya hubungan suami saya dengan istri pertamanya ?
  2. Bagaimana hukumnya kalau suami saya tidak memberikan nafkah kepada saya dan anak kami ? Mengingat ia sangat takut dengan istri pertamanya karena khawatir dilaporkan ke tempat suami saya bekerja ?
  3. Apa yang mesti saya lakukan agar bisa melaksanakan Islam dengan baik ?

Milah, Jawa Timur

Jawaban :

Seorang Muslim hanya boleh menikah dengan Muslimah juga. Islam tidak mengenal nikah campuran ( beda agama ). Ada perkecualian dalam al-Quran yaitu pria Muslim boleh menikah dengan wanita ahlul kitab.  Yang menjadi masalah adalah apakah orang Katolik di Indonesia ini termasuk ahlul kitab sebelummu seperti yang disebut dalam al-Quran surah Al-Maidah : 5.

Sebagian besar ulama Indonesia berpendapat bahwa orang Kristen Katolik / Protestan di Indonseia ini tidak termasuk ahlul kitab sebelumnya. Kalau pendapat ini menjadi acuan, maka suami Anda harus putus pernikahannya dengan istri yang masih beragama Katolik itu. Tapi kalau istrinya masuk Islam, pernikahan mereka bisa diteruskan tanpa melalui pernikahan baru. Lagi pula menikah dengan Muslimah jauh lebih baik dibanding dengan non-Muslim.

Setiap suami wajib memberi nafkah kepada instrinya. Baik nafkah lahir ( papan, sandang, pangan ) maupun nafkah bathin ( perhatian, pendidikan, pergaulan, dll ). Orang yang tidak melakukan kewajiban adalah dosa hukumnya. Kewajiban tersebut bisa menjadi gugur karena sebab-sebab tertentu seperti istrinya ridha tidak diberi nafkah oleh suaminya atau  karena suaminya benar-benar sudah tidak mampu melakukannya.

Anda tidak boleh putus asa untuk terus mengajak, mempengaruhi suami supaya tetap menjadi Muslim yang baik. Anda harus mampu membuktikan bahwa Islam itu yang terbaik. Seorang Muslim itu adalah manusia teladan yang breperilaku baik dan terpuji.

Anda akan lebih berprestasi lagi kalau bisa mengajak keluarganya, terutama anaknya menjadi Muslim yang baik. Mohonlah kepada Allah SWT dipenghujung malam, supaya mendapat kekuatan lahir dan bathin dalam menghadapi dan mengatasi problem.■

Sumber : Menggapai Sakinah, Sabili , No. 06 Th. X, 3 Oktober 2002 / 26 Rajab 1423

Judul asli : Nikah Beda Agama

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Keluarga, Miftah Faridl, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s