Hukum dan Makna Akikah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sebenarnya hukum akikah itu bagaimana? Mohon penjelasan, terima kasih.

Ridho, Bogor

Jawaban :

Para fuqaha mengartikan akikah ( aqiqah  ) secara kosakata sebagai: (1) batu permata atau batu mulia berwarna merah, putih atau kuning, (2) rambut bayi manusia atau hewan yang tumbuh dalam perut ibunya, (3) sembelihan yang disembelih saat pengguntingan rambut bayi.

Secara terminologi, akikah diartikan sebagai hewan yang disembelih untuk bayi yang baru lahir sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah dengan niat dan syarat-syarat yang khusus.

Sebagian ulama syafi’iyah kurang sependapat dengan penggunaan istilah akikah. Mereka cenderung menggunakan istilah ‘ nasiikah’ atau ‘dzabiihah’. Keduanya dapat diartikan sembelihan dan kurban. Menurut jumhur ulama, hukum akikah adalah sunah.

Akikah dilaksanakan pada hari ketujuh bagi yang mampu. Sebagian ulama membolehkan sebelum atau sesudahnya jika terhalang. Ritual akikah adalah menyembelih dua ekor kambing untuk laki-laki atau satu ekor untuk perempuan, mengumumkan nama yang baik bagi bayi dan mencukur rambutnya yang dilanjutkan dengan bersedekah seberat timbangan rambut itu dengan emas atau perak. Beberapa aturan hukum yang terkait dengan hewan dan dagingnya sangat dekat dengan hukum hewan serta daging kurban.

Dari Samurah bin Jundab dia berkata, Rasulullah bersabda, “Semua bayi dalam keadaan tergadaikan dengan akikah yang pada hari ketujuh disembelihkan hewan ( kambing ), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” ( Hadis Riwayat Abu Dawud 2.838, Tirmidzi 1.552, dan lainnya ).

Rasulullah bersabda, “Akikah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” ( HR Bukhari 5.472 ). Tafsir hadis ‘menghilangkan gangguan’, menurut Ibnu Hajar Alasqalany dan Asy-Syaukany, adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan semua gangguan yang ada padanya.

Dari Aisyah RA, Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diakikahkan dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing. ( HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah ). Tidak ada tuntunan dari Rasulullah bagi yang ingin mengakikahkan dirinya setelah dewasa. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 13 April  2011 / 9 Jumadil Awal 1432

Judul asli : Hukum Akikah

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hukum dan Makna Akikah

  1. Izin menyimak gan..manfaat bangets/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s