Tobat dari Zina


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya pemuda berusia 23 tahun dan belum menikah. Saya ingin bertanya tentang hal yang menggelisahkan saya sebagai seorang Muslim, yaitu saat pernah berzina sebanyak dua kali. Setelah pertama kali melakukannya, saya pernah bertobat, namun terjerumus kembali. Dan setelah kedua kalinya, saya sungguh-sungguh ingin bertobat.

Apakah yang saya lakukan sudah benar atau ada hal yang harus saya kerjakan. Mohon penjelasan dan doa dari ustadz agar saya tidak terjerumus kembali pada perzinaan.

Hadi Nugroho

Jawaban :

Bertobat artinya kembali pada Allah SWT setelah sesat atau bermaksiat. Namun, setelah bertobat, tak ada yang bisa menjamin tidak terperosok kembali ke lubang yang sama kecuali Allah melindunginya. Oleh karena itu, agar selalu dalam keadaan taat dan terhindar dari maksiat, dibutuhkan ketulusan untuk taat dan kesungguhan tekad meninggalkan maksiat. Juga komitmen kuat tak mengulangi perbuatan maksiat.

Agar tobat dari perbuatan zina dapat konsisten atau istikamah, Allah menunjukkan jalan-Nya melalui ayat, “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” ( QS. Thaha [20] : 82 ). Berdasarkan ayat di atas, ada lima perkara penting yang harus dijalankan, yaitu:

Pertama, kenali Allah sebagai Ghaffar atau Yang Maha Mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertobat. Maknanya, jangan pernah putus asa dalam kembali dan bertobat karena Dia selalu membuka lebar pintu tobat. Rasulullah mencontohkan dengan 70 kali bertobat dalam sehari semalam. Ini penting dalam menahan gejolak syahwat dan godaan yang bisa datang setiap saat.

Kedua, segera bertobat jika lalai dan terperosok ke dalam maksiat berupa zina mata, zina hati, atau bentuk zina lainnya. Jangan pernah menunda bertobat sebab kematian senantiasa mengancam.

Ketiga, beriman dengan menyibukkan hati dan pikiran untuk mengingat dan merasakan keagungan dan kebesaran Allah. Tundukkan pandangan syahwat dan jaga lisan dari perkataan yang mengandung birahi serta kendalikan pendengaran dari maksiat yang membangkitkan syahwat.

Keempat, beramal saleh dengan berhijrah dari lingkungan maksiat ke lingkungan taat, memperbanyak puasa demi menekan gejolak syahwat, dan berteman dengan sahabat yang saleh serta menjaga kesucian diri ( ‘iffah ).

Kelima, berjuang untuk konsisten di jalan yang benar sambil menegakkan amar makruf nahi mungkar jika melihat kemungkaran ada di depan mata. Ini adalah pagar atau benteng diri yang paling ampuh. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 21 Maret  2011 / 16 Rabiul Akhir 1432

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tobat dari Zina

  1. Pingback: Sanksi Bagi Pelaku Zina | Jalan Kehidupan

  2. putri says:

    ustadz, untuk bertaubat dari zinah, haruskah pelakunya di rajam terlebih dahulu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s