Memperlakukan Makam


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dalam waktu dekat kami akan merenovasi makam ayah dengan keramik. Apakah diperbolehkan merenovasi makam dengan alasan keindahan? Seperti apakah seharusnya kita memperlakukan makam? Terima kasih.

Anto, Tangerang Selatan

Jawaban :

Syariat Islam mengajarkan untuk menghormati makam demi menghargai mayat yang  ada di dalamnya. Para ulama fikih sepakat bahwa dimakruhkan menginjak atau berjalan di atas makam karena Rasulullah SAW telah melarangnya sesuai hadis Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad Hasan.

Agar sikap dan perilaku terhadap makam sejalan dengan tuntunan akidah Islam, mari pahami substansi doa ziarah kubur berikut. “Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang Mukmin dan Muslimin ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang kemudian, dan kami insya Allah akan menyusul kamu sekalian.” ( HR Muslim ).

Dalam doa masuk makam, disunahkan mengucapkan salam kepada penghuni kubur. Beginilah bentuk penghargaan yang benar, penghuni kubur tidak menikmati betapapun indahnya struktur dan hiasan bangunan makam, bahkan dilarang sebagaimana dalam hadis berikut, “Rasulullah SAW melarang kuburan dikapur / dicat, diduduki, dan dibangun.” Al-Imam at-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang sahih dengan tambahan lafaz, “dan ditulisi”.

Selanjutnya, ucapan salam itu hanya kepada Muslimin, Muslimat, serta mukminin dan mukminat. Karenanya, jangan lakukan tindakan seperti orang kafir dalam memperlakukan makam karena hal itu akan melecehkan kehormatan penghuni kubur dari kalangan Muslimin dan mukminin.

Yang paling penting dilakukan dalam ziarah kubur adalah memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka. Karenanya, jangan lakukan upacara-upacara syirik yang memberatkan tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT. Yang tak kalah penting adalah kesadaran bahwa peziarah kubur pasti akan menyusul kematian orang-orang yang ada dalam kubur.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 28 Maret  2011 / 23 Rabiul Akhir 1432

ΩΩΩ

 Entri Terkait :

  1. Mencampur Kuburan Muslim dan Non-Muslim
  2. Membaca Al-Quran di Kuburan
  3. Memperlakukan Makam
  4.  Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati
  5. Membaca Yasin untuk Mayat
  6. Tuntunan Ziarah Kubur
  7.  Persamaan Alam Kubur dengan Kuburan
  8.  Jangan Terlalu Salahkan Diri Sendiri
  9. Wasiat  Menguburkan Mayat
  10. Membaca Al-Quran di Kuburan , Bolehkah ?
  11.  Masjid  di  Atas Kuburan
  12. Shalat Jenazah di Kuburan
  13. Hajatan  Kematian
  14. Mengurus Jenazah yang Terkena AIDS
  15. Orang  yang Berhak  Memandikan Jenazah
  16. Wanita Shalat Jenazah
  17.  Shalat Jenazah Berulang
  18.  Mati Bunuh Diri
  19.  Uang Duka
  20.  Mengubur Jenazah Malam Hari
  21. Membuka Tali Kafan
  22. Mengubur Jenazah di Laut
  23. Azan Ketika Penguburan Mayat

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s