Agar Istiqamah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada hadis sahih yang berbunyi: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian telah beramal dengan amalan ahli surga, hingga jarak antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta. Lalu, takdirnya menentukan lain, sehingga ia melakukan amal ahli neraka dan akhirnya masuk neraka.”

Terus terang, setiap membacanya, saya sangat takut dan menangis. Bagaimana saya menyikapi dan dapat terhindar dari kalimat terakhir itu? Mohon penjelasan, terima kasih.

Fitri, Jakarta

Jawaban :

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya tersebut menegaskan akan pentingnya berusaha keras untuk istiqamah / konsisten dalam berbuat taat kepada Allah. Juga mengingatkan kita agar jangan lalai apalagi bangga dengan kebaikan yang telah kita lakukan, karena sesungguhnya bukan amal kita semata yang menyebabkan bisa masuk surga.

Ada penyebab utama seseorang masuk surga yaitu rahmat Allah SWT, karena rahmat-Nya pula yang menyebabkan seseorang bisa berbuat taat, dan hanya karena rahmat-Nya sajalah seseorang mampu istiqamah dalam ketaatan.

Ada tuntunan dalam pesan Rasulullah SAW bagaimana caranya agar terhindar dari kalimat terakhir yang Anda takutkan. Perhatikan hadis Rasulullah berikut.

Abdurrahman bin Ma’iz dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakan padaku suatu hal yang aku jadikan pedoman.” Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, “Katakan, Rabbku Allah kemudian beristiqamahlah.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang paling Anda takutkan padaku?” Sambil memegang lidah beliau menjawab, “Ini.” Menurut Abu Isa, “Hadis ini hasan sahih dan telah diriwayatkan melalui beberapa sanad dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi.” ( HR Tirmidzi – 2334 ).

Agar dapat istiqamah / konsisten dalam berbuat taat hingga akhir hayat, Rasulullah SAW membimbing kita agar menjauhi sikap riya ( memamerkan kebaikan dan ketaatan ). Dari  Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya pada setiap sesuatu itu ada saat kesungguhannya dan setiap kesungguhan ada masa melemahnya. Jika pelakunya senantiasa bersikap istiqamah dan mendekat, berharaplah dia bisa tetap ( semangat ), sebaliknya jika ia hanya ingin ditunjuk dengan jari ( berbuat karena riya ) maka janganlah orang itu kalian anggap ( tidak termasuk orang yang baik ).” ( HR Tirmizi – 2377 ). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu,  4 Mei  2011 / 30 Jumadil Awal 1432

Gambar : http://www.facebook.com/notes.php?id=115473208502012


ΩΩΩ

 Entri Terkait :

  1. Pengertian Istiqamah
  2. Istiqamah dalam Ibadah

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Syariah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s