Zikir Akbar, Bolehkah?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya mau bertanya tentang zikir akbar. Bukankah zikir seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ? Namun, sekarang ini, sering diadakan zikir akbar atau majelis zikir padahal sepengetahuan saya majelis zikir yang dimaksud adalah majelis ilmu, bukan zikir bersama-sama apalagi disertai suara lantang. Bukankah kita dilarang berzikir dengan suara lantang bahkan diperintahkan dengan lemah lembut karena Allah Maha Mendengar?

Mohon penjelasan, terima kasih.

M Tasrif, Palembang

Jawaban :

Zikir adalah ibadah dengan melantunkan asma Allah seraya menyadari keagungan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang tinggi dan mulia, seperti tasbih ( Subhanallah ), tahmid ( Alhamdulillah ), takbir ( Allahu Akbar ), dan tahlil ( Laa ilaaha illallah ), baik dengan lidah maupun dengan hati.

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyah mengatakan, pola mana pun yang digunakan dalam berzikir hendaknya dirasakan dengan hati, baik dzikrullisan ( zikir mulut ) maupun dzikrul qalb ( zikir hati ). Berdasarkan substansi zikir, zikir sirr ( zikir hati, zikir suara perlahan ) lebih baik.

Zikir akbar dengan suara keras / lantang memiliki keutamaan dan kekurangan tersendiri yang berbeda-beda antara seseorang dengan lainnya. Ada yang bisa langsung diresapi di hati sehingga tak perlu dengan lisan, ada yang harus dengan lisan baru ke hati, dan ada pula yang memerlukan bimbingan seperti di dunia pendidikan dan majelis zikir.

Zikir akbar menjadi perdebatan karena beberapa hal. Pertama, tidak dicontohkan Rasulullah secara formal. Kedua, bertentangan zhahir dengan ayat 205 dalam surah Al-A’raf dan hadis riwayat Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari yang menekankan pada zikir sirr atau zikir qalb.

Namun, ada riwayat lain dari Ibnu Abbas RA dalam sahih Bukhari yang menyebutkan bahwa para sahabat seusai shalat fardhu berzikir dengan mengeraskan suara. Ibnu Abbas berkata, “Saya mengetahui ini dilakukan setelah shalat dan aku mendengarnya.”

Riwayat ini secara zhahir menunjukkan adanya taqrir / persetujuan Rasulullah SAW meskipun pendapat ini bertentangan dengan keterangan yang dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi, Al-Mawardi, dan Ash-Shuyuthi.

Kesimpulan saya, sebaik-baik zikir adalah sirr. Adapun zikir akbar boleh dikerjakan selama tidak diyakini sebagai sebuah ketentuan sehingga terkesan menjadi syariat yang diharuskan al’ibroh bil ma’ani la bil mabani ( ketentuan berdasarkan substansinya bukan bentuk formalnya ), serta tetap menjaga diri dari yang menodai keikhlasan dan meresap hingga ke dalam hati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis , 24 Februari  2011 / 21 Rabiul Awal 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Ibadah, Upacara Keagamaan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s