Hukum Memajang Foto


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimana hukumnya kalau kita memajang foto-foto di dalam rumah?
Terima kasih atas penjelasan Ustadz.

Dewi, Bekasi

Jawaban :

Tak dapat dimungkiri, sejarah awal syirik yang terjadi pada masa Nuh AS bermula dari pemujaan lewat gambar dan patung orang-orang saleh, lalu didewa-dewakan sebagai wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr ( QS. Nuh [71] : 23 ).

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Nabi SAW, mereka melihat gereja di Habasyah yang di dalamnya terdapat gambar. Maka, beliau pun bersabda: “Sesungguhnya jika orang saleh dari mereka meninggal, mereka mendirikan masjid di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” ( HR Bukhari ).

Foto berbeda dengan lukisan dalam penggunaan medianya. Foto adalah menggambar objek dengan cahaya. Cahaya yang masuk lalu terekam di dalam kamera, kamera menyimpan cahaya, dan tampilan yang ada di dalam foto adalah persis seperti aslinya yang diciptakan oleh Allah SWT.

Memajang foto di dalam rumah yang bukan lukisan tangan sebagian ulama memubahkan / membolehkan selama yang dipajang bukanlah foto yang menjadi simbol pemujaan ( syirik) , mengandung maksiat, atau berakibat pada pemujaan. Foto yang digunakan untuk kepentingan administrasi seperti KTP, SIM, paspor, dan lain-lain juga masih dibolehkan.

Sebab, foto bukanlah apa yang dimaksudkan dalam hadis-hadis yang menyebutkan masalah gambar. Foto tidak masuk kategori khalaqa kakhalqi ( menciptakan seperti ciptaan-Ku ) yang berakibat dimintakan untuk mendatangkan ruh bagi gambar makhluk tersebut.

Dari  ‘Aisyah Ummul Mukminin, dia mengabarkan bahwa dia telah membeli bantal yang ada gambarnya. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak masuk ke dalam rumah. Maka, ‘Aisyah mengerti betapa dari wajah Rasulullah tampak ketidaksukaan. Maka, Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dosa apa yang telah aku perbuat?” Rasulullah SAW pun bertanya: “Mengapa bantal ini ada di sini?”

Mendengar pertanyaan itu, Aisyah menjawab: “Aku membelinya untuk Anda agar Anda dapat duduk dan bersandar di atasnya.” Maka, Rasulullah pun bersabda:”Sesungguhnya orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan akan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan’.” Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya rumah yang berisi gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.” (HR  Bukhari).

Malaikat pembawa rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar makhluk bernyawa dalam bentuk sempurna dan ditempatkan pada posisi mulia. Namun, jika ditempatkan sebagai karpet, sarung bantal, atau alas yang diinjak atau diduduki, sebagian ulama masih membolehkannya. Namun, jika gambar tidak dalam bentuk yang utuh, hal ini juga dibolehkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu 22 Januari 2011 / 17 Shafar 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

Advertisements

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hukum Memajang Foto

  1. dadang says:

    Ust bagaima niat puasa nazar senin kamis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s