Membangun Komunitas Hijrah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Keberhasilan Rasulullah bersama para sahabat membangun komunitas Islam yang kuat di Madinah tidak lepas dari keberhasilan beliau dalam membangun struktur komunitas hijrah. Apa saja komponen penting untuk membangun komunitas hijrah ?

Hamba Allah

Jawaban :

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Anfal: 72).

Yang dimaksud saling melindungi ialah di antara Muhajirin dan Anshar terjalin persaudaraan yang amat teguh, untuk membentuk masyarakat yang baik. Demikian keteguhan dan keakraban persaudaraan mereka itu sehingga pada pemulaan Islam, mereka waris-mewarisi seakan-akan mereka bersaudara kandung.

Dari ayat di atas dapat ditarik simpulan, secara umum komunitas hijrah harus dibangun dengan komponen, yaitu orang-orang yang beriman, berhijrah, berjihad dengan harta dan dengan jiwa di jalan Allah, memberikan tempat kediaman, dan orang-orang yang memberikan pertolongan.

Sebagaimana Rasulullah membangun komunitas pada masa itu, dalam konteks kekinian setidaknya ada dua kelompok besar masyarakat yang harus dipersaudarakan. Pertama, kelompok Muhajirin adalah sekumpulan hamba Allah pengikut Muhammad yang berbekal iman dalam berhijrah menuju Allah dan siap berjihad harta dan nyawa.

Kedua, kelompok Anshar adalah sekumpulan hamba Allah pengikut Muhammad yang melayani kaum Muhajirin dengan memberikan tempat kediaman dan perlindungan keamanan. Kedua kelompok besar itu harus saling mengikatkan diri dengan kesadaran satu sama lain setidaknya dengan dua ikatan.

Pertama, ikatan akidah berupa persaudaraan Islam didasarkan pada ikatan seiman dan se-Islam, persaudaraan jenis ini jika terjalin, nilainya melebihi ikatan darah dan nasab atau keturunan. Kedua, ikatan hijrah, yaitu menjadikan Mukmin yang berhijrah sebagai kerabat bahkan keluarga dekat.

Selain itu, menjadikan Mukmin yang belum berhijrah sebagai sahabat biasa sebagaimana digambar ayat di atas. Setidaknya ada solidaritas hijrah yang terbangun dalam komunitas tersebut. Seorang Mukmin menjadi pelindung bagi sesama Mukmin. Seorang Mukmin wajib memberikan tempat kediaman dan perlindungan keamanan bagi Mukmin yang berhijrah.

Tidak wajib memberikan tempat kediaman dan perlindungan keamanan kepada Mukmin yang belum berhijrah, kecuali dimintakan tolong dalam urusan agama saja. Komunitas hijrah akan terbangun dengan kokoh jika setiap orang berhijrah didasari iman. Motif berhijrah karena iman untuk menegakkan agama Allah dan sunah Rasul.

Dasar kedua, hijrah, yaitu perubahan dan perpindahan dari yang dilarang menuju keridhaan Allah. Selanjutnya, jihad. Artinya, berjuang keras melawan rintangan penghambat hijrah menuju keridhaan Allah. Jihad di jalan Allah dilakukan dengan harta dan nyawa untuk menjaga eksistensi komunitas dan dakwah Islam yang sedang dikembangkan.

Di antara penghambat hijrah adalah ketidakrelaan meninggalkan harta kekayaan atau karena mengharapkan balasan harta kekayaan di tempat hijrahnya. Jihad harta dalam hijrah adalah dengan membelanjakan harta di jalan perjuangan karena Allah semata atau rela kehilangan harta karena Allah saja.

Puncak kesempurnaan hijrah adalah ketika perubahan dan perpindahan seseorang didasari kecintaan kepada Allah dan Rasul yang melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Begitulah sistem sosial Islam dalam membangun komunitas hijrah. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 16 November 2012 / 2 Muharram 1434 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Jihad, Muamalah and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s