Makna Kehidupan yang Baik


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apa maksud atau tafsir kata hayatan thayyibah (QS al-Nahl [16]: 97) dalam ayat tersebut? Saya tanyakan soal ini agar tidak salah dalam mencari kebahagiaan dan kebaikan dalam hidup saya. Mohon penjelasannya.

Ratna J — Depok

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS al-Nahl [16]: 97).

Para ulama tafsir telah menjelaskan maksud dari kalimat al-hayah al-thayyibah (kehidupan yang baik) dalam ayat ini dengan sudut pandang yang luas dan beragam. Imam al-Qurthubi, misalnya, dalam tafsir beliau menerangkan bahwa ada beberapa pendapat mengenai makna dari kehidupan yang baik dalam ayat ini.

  • Rezeki yang halal, menurut Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, ‘Atha, dan al-Dhahhak.
  • Sifat qana’ah (rasa puas), menurut Hasan al-Basri, Zaid bin Wahab, Wahab bin Munabbih, Ikrimah, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib.
  • Taufik Allah dalam berbuat ketaatan karena itu akan mengantarkannya kepada keridaan Allah SWT menurut salah satu pendapat al Dhahhak.
  • Nikmat surga, menurut Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid.
  • Kebahagiaan, menurut Ibnu Abbas.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kehidupan yang baik adalah mencakup hal itu semua sesuai dengan hadis Nabi SAW.

Abdullah bin Amru bin al-‘Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang cukup dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.“ (HR Muslim).

Syekh Thahir bin ‘Asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-tanwir menjelaskan bahwa ini merupakan janji dari Allah kepada orang beriman dan beramal saleh berupa segala bentuk kebaikan dunia yang terutama adalah ridha dengan segala ketentuan Allah SWT dan harapan akan akhir yang baik, sehat walafiat serta izah Islam dalam dirinya.

Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Madarij al Salikin menjelaskan bahwa maksudnya adalah dikaruniakan sifat qana’ah, ridha dengan segala ketentuan Allah SWT, rezeki yang baik, dan lainlain. Kehidupan yang baik adalah hidupnya hati, nikmat, dan kegembiraan hati karena iman kepada Allah SWT, mengenal-Nya, mencintai-Nya, bertobat, dan bertawakal kepada-Nya. Sesungguhnya, tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan hati yang demikian dan tidak ada kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan hati, kecuali nikmat surga.

Ibrahim bin Adham seorang tabiin yang zahid mengatakan kepada orang-orang dekatnya, “Seandainya para raja dan pangeran mengetahui kebahagiaan dan kegembiraan yang kita rasakan maka mereka akan berusaha merebutnya dari kita dengan pedang.”

Ibnu Taimiyyah mengatakan kepada muridnya, Ibnu al-Qayyim, “Apa yang ingin dilakukan musuhku terhadapku? Surga dan kebunku ada di dalam dadaku, ke manapun aku pergi, ia tidak pernah terpisah dariku. Memenjarakanku berarti khalwah (menyendiri dengan Allah) bagiku, membunuhku berarti mati syahid bagiku, dan membuangku dari negeriku berarti perjalanan rekreasi bagiku.”

Benarlah Rasulullah SAW dalam sabdanya, diriwayatkan dari Shuhaib, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Jika ia dianugerahi nikmat bersyukur, hal itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah bersabar, hal itu juga baik baginya.’” (HR Muslim).

Semua pendapat para ulama tersebut menunjukkan bahwa maksud kehidupan yang baik menurut ayat di atas adalah kehidupan jiwa dan hati orang yang beriman yang merasakan ketenangan dengan segala ketentuan Allah SWT, lapang dada menjalani takdir-Nya, dan bahagia dengan keimanannya pada Allah SWT. Jadi, yang dimaksud dengan kehidupan yang baik itu bukanlah nikmat kesehatan badan, tidak sakit, kaya tidak pernah miskin, dan mengalami kesulitan hidup. Karena kalau yang dimaksudkan dengan semua itu maka yang kita lihat orang kafir atau orang yang mengaku Islam, tapi tidak hidup sesuai dengan tuntutan Islam pun mendapatkan itu semua, bahkan mungkin lebih dari orang beriman yang beramal saleh.

“Dan, barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha [20]: 124).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 19 September  2012 / 3 Dzulqaidah 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :


About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s