Distribusi Zakat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kericuhan dan saling rebut pembagian harta zakat tak jarang menelan korban jiwa. Sebenarnya, bagaimana mekanisme pembagian zakat dalam Islam, Ustadz?

Sukrisma, Bekasi

Jawaban :

Zakat bukanlah sebatas rukun Islam yang wajib di tunaikan secara ritual saja. Zakat adalah sebuah sistem ekonomi dan sosial yang harus diimplementasikan untuk menanggulangi kemiskinan dan kesenjangan sosial, antara si miskin dan kaya dalam komunitas atau negara Muslim. Tampak, saat ini orang kaya hidup foya-foya, di sisi lain jutaan orang miskin yang berupaya memenuhi kebutuhan pokoknya yang layak harus mengais dari tempat sampah dan menghinakan dirinya dengan meminta-minta.

Zakat bukan merupakan bentuk belas kasihan atau pemberian secara sukarela orang kaya kepada mereka yang miskin dan juga bukan bentuk penghinaan diri orang fakir miskin. Karena, pada dasarnya mekanisme zakat itu dipungut dan didistribusikan oleh pihak pemerintah atau penguasa dalam sistem pemerintahan Islam dan menjadi wakil bagi fakir dan miskin untuk mengumpulkan zakat dari yang kaya.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS at-Taubah: 103). Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW selaku pemimpin untuk memungut zakat dari mereka yang telah wajib menunaikannya. Dan, itulah yang dilakukan oleh Nabi serta para khalifah setelahnya.

Mereka mengirim para petugas ke seluruh pelosok wilayah Islam, mengumpulkan zakat sesuai aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan Nabi dengan tidak menzalimi para wajib zakat dan tidak mengurangi hak fakir miskin. Para petugas itu kemudian mendistribusikan hasil zakat yang dikumpulkan kepada fakir miskin dan mereka yang termasuk ke golongan/asnaf yang berhak menerima zakat di daerah atau wilayah zakat itu dikumpulkan. Jika ada kelebihannya, akan dibawa ke pemerintahan pusat untuk didistribusikan lagi secara merata.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah bersabda kepada Mu’az bin Jabal ketika mengutusnya ke negeri Yaman, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Jika engkau datang kepada mereka, serulah kepada persaksian tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukanlah kepada mereka, Allah telah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Bila mereka menaatimu dalam hal itu, beri tahukanlah mereka, Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya kemudian dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Dan, jika mereka menaatimu dalam hal itu, berhati-hatilah terhadap kemuliaan harta-harta mereka. Jagalah dirimu dari doa pihak yang terzalimi karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dan Allah.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan, ada beberapa sebab mengapa Islam menjadikan mekanisme pengumpulan dan pendistribusian zakat ada di tangan penguasa. Tidak semua orang Islam itu taat dan mempunyai hati yang berempati untuk menunaikan zakat sehingga kalau hal itu diserahkan kepada individu, tidak akan terjamin hak fakir miskin. Orang miskin yang mengambil haknya melalui pemerintah dan bukan langsung dari si kaya dapat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta.

Membiarkan sistem distribusi zakat itu kepada setiap individu akan menyebabkan pendistribusian zakat menjadi kacau dan tidak tepat sasaran. Orang yang berhak menerima zakat itu tidak hanya fakir dan miskin, tetapi juga ada pihak dan golongan lain yang berhak menerimanya. Di antaranya, untuk kepentingan umat Islam secara umum yang tidak bisa dilihat atau diperhatikan individu-individu, tapi harus dilakukan pemimpin umat, seperti untuk mualaf qulubuhum (yang ingin dilunakkan hatinya) dan untuk fi sabilillah.

Di Indonesia, sistem pengumpulan dan pendistribusian zakat ini tidak dilakukan negara dan bukan merupakan keharusan. Namun, dengan adanya lembaga-lembaga zakat yang bergerak di bidang itu, bagi umat Islam yang telah berkewajiban menunaikan zakat harta hendak menyalurkannya melalui lembaga-lembaga zakat yang menurutnya dapat dipercaya. Melalui lembaga, kita berharap pendistribusian zakat umat Islam lebih merata dan mencakup semua asnaf yang berhak menerima zakat tersebut.

Seharusnya, lembaga zakat saling berkoordinasi dan menyatukan potensi sehingga tercapai keadilan dan pemerataan kesejahteraan serta mencakup semua lapisan umat di seluruh pelosok. Bagi yang mendistribusikan sendiri zakatnya, diharuskan menjauhi cara-cara yang dapat menyakitkan dan menghinakan saudara-saudara sesama Muslim. Adapun cara pendistribusian zakat, yakni kumpulkan data mereka yang berhak menerima zakat di daerahnya, kemudian meminta sebagian di antara mereka atau mengupah orang untuk mengantarkan dan mendistribusikan zakat hartanya itu kepada yang berhak menerimanya. Selain menjaga harga diri dan kehormatan mereka, hal itu juga mendidik rakyat bangsa ini untuk tidak menjadi peminta-minta. Sehingga, berita tentang pembagian zakat yang ricuh dan memakan korban nyawa tidak kita dengar lagi.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 11 Agustus 2012/22 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi : http://de.appbrain.com

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s