Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sebentar lagi kita mau memasuki bulan suci Ramadhan dan sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kami setiap mau menjalankan ibadah puasa kami berziarah ke kuburan orang tua. Apakah hukumnya menziarahi kuburan sebelum Ramadhan?

Hamba Allah

Jawaban :

Dalam Islam, ziarah kubur adalah salah satu ibadah yang pada awalnya dilarang oleh Nabi Muhammad karena para sahabat baru terlepas dari kebiasaan dan kepercayaan jahiliah mereka yang banyak mengandung perkara-perkara syirik. Setelah melihat keteguhan iman, kekuatan keyakinan, dan akidah para sahabatnya, Nabi menganjurkan mereka berziarah kubur karena bermanfaat untuk mengingatkan seorang Mukmin akan kematian.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah berziarah ke makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pulalah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda, “Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi aku tidak diizinkan melakukannya. Maka, aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian.” ( HR Muslim ).

Dan, dalam riwayat lain dijelaskan, ziarah kubur sangat berguna dalam menambah kezuhudan dan memantapkan keyakinan pada peristiwa akhirat. Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, tetapi sekarang hendaknya kalian berziarah kubur karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan hari akhirat.” ( HR Ibnu Majah ).

Berdasarkan anjuran Nabi, tujuan ziarah kubur adalah mengingatkan Muslim akan kematian yang pasti dihadapi setiap makhluk bernyawa dan pasti ia dikuburkan sebagaimana orang yang ada dalam kuburan tersebut, termasuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di hadapan Allah SWT kelak. Rasulullah juga mengajarkan, tujuan ziarah adalah mendoakan para ahli kubur dari kalangan Muslim agar Allah meringankan siksa atau menambahkan nikmat pada ahli kubur itu.

Dari Aisyah, ia berkata, “Apabila Rasulullah bergilir di rumahku, pada akhir malam beliau keluar menuju pekuburan al-Baqi, lalu mengucapkan, “Semoga kesejahteraan tercurah atas kalian wahai para penduduk kubur dari kalangan kaum Mukminin. Telah datang apa yang dijanjikan kepada kalian. Dan, besok ditangguhkan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penduduk pekuburan Baqi’ Al Gharqad.” ( HR Muslim ).

Dari sisi waktu, tidak ada dalil atau perintah dari Nabi untuk berziarah ke kuburan pada waktu tertentu. Perintah Nabi bersifat umum yang berarti disunahkan bagi seorang Muslim berziarah ke kuburan kapan pun ia sempat melakukannya. Dan, mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah dan tidak melakukannya pada waktu-waktu lain adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya. Apalagi, sampai menganggap berziarah pada waktu itu lebih afdhal dari waktu-waktu yang lain, seperti menjelang Ramadhan atau Idul Fitri.
Karena itu, jika hendak berziarah ke kuburan orang tua atau keluarga lainnya menjelang Ramadhan, sebaiknya berziarah juga pada waktu-waktu lain sehingga kita tidak mengkhususkan menjelang Ramadhan saja. Kalau sempatnya hanya pada waktu menjelang Ramadhan itu, sebaiknya jangan dilakukan setiap tahun agar tidak termasuk orang yang mengkhususkan ibadah bersifat umum dengan waktu atau tempat tertentu karena itulah yang disebut bid’ah dalam beragama.

Berhati- hatilah agar jangan sampai ziarah kubur yang seharusnya bersifat ibadah itu menjadi arena kemusyrikan yang sangat dimurkai Allah. Seperti keyakinan sebagian masyarakat di Indonesia yang menganggap Sya’ban ( Ruwah ) adalah bulan di mana arwah diperkenankan mengunjungi keluarganya yang masih hidup maka dianjurkan kepada yang masih hidup untuk membahagiakan para arwah dengan cara menziarahi kuburnya.  Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 7 Juli  2012 / 17 Sya’ban 1433 H

Ilustrasi : Muslim Blog

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s