Korupsi Pengadaan Al-Quran


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkapkan adanya tindak kejahatan korupsi proyek pengadaan mushaf Al-Quran oleh anggota DPR dan Kementerian Agama. Dalam Islam, apa hukuman yang pantas bagi para pelaku korupsi ini?

Warno Kj – Denpasar

Jawaban :

Dua ekor serigala lapar di tengah kerumunan kambing tidak lebih buas dari seseorang yang kehilangan agamanya karena telah mencintai harta dan kekuasaan. Begitu salah satu pernyataan Rasulullah SAW dalam satu hadis hasan sahih yang diriwayatkan Imam Tirmizi. Barangkali pernyataan itu pantas ditujukan kepada penyembah uang dan kekuasaan yang telah melanda pejabat negeri ini sehingga pengadaan Al-Quran pun dikorupsi.

Itu adalah gambaran orang yang sudah kehilangan rasa takutnya pada Allah Yang Maha Berkuasa. Padahal, si pelaku yang juga sebagai Muslim sudah tahu perbuatan korupsi dan suapmenyuap — dalam istilah agamanya disebut risywah dan ghulul — merupakan dosa besar yang mendapat laknat dari Allah SWT dan dijanjikan akan mendapat siksaan yang pedih di hari pembalasan nanti.

Allah menegaskan, tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan ( pembalasan ) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. ( QS Ali `Imran [3]: 161 ).

Korupsi ini merupakan kejahatan kemanusiaan dan pengkhianatan terhadap amanah yang seharusnya ditunaikan dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Allah menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul ( Muhammad ) dan ( juga ) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.“ ( QS al-Anfal [8] : 27 ).

Hukuman terhadap para pelaku korupsi ini masuk kategori ta’zir ( hukuman yang tidak ditentukan, tapi diserahkan kepada pemimpin/pengadilan untuk menentukannya ). Dalam Islam, kita mengenal ada tiga bentuk hukuman terhadap kejahatan dan kemaksiatan, yaitu qishas untuk orang yang melakukan pembunuhan dan mencederai orang lain, hudud untuk kejahatan dan kemaksiatan tertentu, seperti zina, mencuri, menuduh orang lain berzina, dan muharabah ( memerangi agama Allah dan melakukan kerusakan di muka bumi ).

Sedangkan ta’zir merupakan hukuman terhadap kejahatan dan kemaksiatan yang tidak ditentukan hukumannya dalam Al-Quran dan sunah. Dengan definisi ini, ketentuan dan sejauh mana beratnya hukuman itu diserahkan kepada penguasa/pengadilan.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah hukuman ta’zir boleh sampai hukuman mati atau tidak. Sebagian ulama berpendapat hukuman ta’zir tidak boleh sampai hukuman mati karena ia bertujuan memberi pelajaran. Dan, sebagian ulama yang lain berpendapat, hukuman ta’zir itu boleh sampai kepada hukuman mati. Dengan syarat jika memang kejahatannya tidak bisa dicegah dan kerusakan yang ditimbulkannya tidak bisa dihilangkan kecuali melalui hukuman mati tersebut. Hukuman tersebut diserahkan kepada pengadilan dalam memutuskannya. Ini adalah pendapat Imam Malik dan sebagian ulama Mazhab Hanbali seperti Ibnu ‘Aqil. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.

Di samping hukuman dalam bentuk fisik, hukuman ta’zir itu juga bisa dalam bentuk finansial ( ta’zir bil mal ) sebagaimana pendapat sebagian ulama dalam masalah al-mal al-fasid.

Termasuk di sini hasil korupsi yang berpendapat bahwa kita menyerahkan kepada pengadilan untuk memutuskan permasalahannya. Dan, jika terbukti bahwa ada hartanya yang di dapat dari hasil korupsi dan sejenisnya maka harta hasil korupsi itu harus disita dan diserahkan kepada negara. Begitu juga sebagian hartanya yang lain atau keseluruhan hartanya sebagai hukuman finansial ( al-ta’zir bil mal ).

Ini adalah pendapat Abu Yusuf dari kalangan ulama Hanafi, salah satu pendapat dalam mazhab Maliki, pendapat lama ( qaul qadim ) Imam Syafi’i, dan pendapat Ibnu Taimiyyah. Mereka mengatakan bahwa boleh menerapkan hukuman secara finansial berdasarkan hadis Nabi SAW untuk orang yang tidak mau membayar zakat.

Bahz bin Hakim meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, pada setiap 40 ekor unta yang dilepas mencari makan sendiri, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya memasuki tahun ketiga. Tidak boleh dipisahkan anak unta itu untuk mengurangi perhitungan zakat. Barang siapa memberinya karena mengharap pahala, ia akan mendapat pahala. Barang siapa menolak untuk mengeluarkannya, kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Dan, tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu pun dari zakat itu.” ( HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim ).

Untuk memberantas kejahatan yang sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak perlu terobosan baru mencegah dan memberangusnya. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 4 Juli  2012 / 14 Sya’ban 1433 H

Gambar : Gepdesign’s Blog

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Al-Quran, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s