Hukum Adzan Memakai Pengeras Suara


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak KH. A. Cholil Ridwan yang saya cintai, mengumandangkan adzan memakai pengeras suara apa hukumnya ? Di daerah saya ada yang menyebut haram, tolong penjelasannya. Terimakasih

Ujang Rachman, Cipanas

Jawaban :

Memakai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan hukumnya mubah, sebagaimana mubah pula memakai pengeras suara untuk mengumandangkan iqamah. Mengumandangkan adzan dan iqamah memakai pengeras suara dihukumi mubah karena pengeras suara tidak lebih hanya benda yang menjadi alat/wasilah untuk melaksanakan perintah syara’.

Secara syar’i, adzan diperintahkan dikumandangkan dengan suara keras. Dalilnya adalah hadits berikut, ”Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahamn bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya, “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembalaan). Jika kamu sedang menggembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” ( H.R. Bukhari )

Lafadz  “maka keraskanlah suaramu” cukup jelas dan lugas yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan adzan dilakukan dengan suara keras agar bisa didengar banyak orang.

Di zaman Rasulullah Saw , mu’adzin sengaja memilih tempat yang tinggi agar suara yang dikumandangkan bisa didengar banyak orang. Abu Dawud meriwayatkan , “Dari Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najjar dia berkata,’Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya.’”  ( H.R. Abu Dawud )

Maknanya, Bilal sengaja memilih naik rumah salah seorang wanita Anshar yang paling tinggi untuk mengumandangkan adzan. Pemilihan ini dimaksudkan agar suara adzan yang dikumandangkan dengan keras bisa didengar banyak orang karena jangkauannya yang lebih luas.

Demikian pula iqamah. Di zaman Rasulullah Saw, iqamah juga dikumandangkan dengan keras sampai terdengar di luar masjid ( bukan hanya didengar jamaah masjid yang ada di dalam ). Bukhari meriwayatkan, Dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Saw bersabda, “ Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” ( H.R. Bukhari )

Ucapan Rasulullah Saw “Jika kalian mendengar iqamat” , bermakna : Jika kalian mendengar iqamah dari luar masjid dengan bukti adanya lafadz  “maka berjalanlah menuju shalat”. Karena itu, hadits ini menunjukkan bahwa iqamah di zaman Rasulullah Saw dikumandangkan dengan keras hingga terdengar orang di luar masjid.

Riwayat senada disebutkan An Nasai dalam Sunan-nya , “Dari Abu Al Mutsanna mu’adzin masjid jami’, dia berkata,”Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang adzan, lalu beliau menjawab, ‘Adzan pada zaman Rasulullah Saw adalah dua-dua dan iqamah sekali-sekali, kecuali ketika mengucapkan, “Qad qaamatish shalah,” — diucapkannya dua kali –. Ketika kami mendengar  ‘Qad qaamatish shalah’ maka kami berwudhu, kemudian segera shalat.” ( H.R. An-Nasai )

Bahkan Ibnu Umar pernah mendengar iqamah dari Baqi’, padahal jarak antara masjid Rasululah Saw dengan Baqi cukup jauh. Imam Malik meriwayatkan, “Dari Nafi’ Abdullah bin Umar mendengar iqamat ketika berada di Baqi’, lalu dia bersegera menuju shalat.” (H.R. Malik)

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, bisa difahami bahwa adzan dan iqamah, keduanya dikumandangkan dengan suara keras dengan maksud agar didengar oleh kaum Muslimin di sekitar masjid agar mereka memenuhi panggilan shalat. Dipilihnya tempat tinggi untuk mengumandangkan adzan dan iqamah di zaman Rasulullah Saw tidak lain adalah untuk menguatkan maksud ini. Menggunakan pengeras suara untuk adzan dan iqamah bermakna menggunakan alat untuk melaksanakan perintah syara’ yaitu mengumandangkan adzan dan iqamah dengan keras agar bisa didengar kaum Muslimin dengan area jangkauan yang luas. Oleh karena itu menggunakan pengeras suara hukumnya mubah, karena pengeras suara hanyalah alat hasil penemuan teknologi yang termasuk keumuman mubahnya seluruh benda bumi yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya, Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.  (Al-Baqarah : 29)

Menggunkan alat semacam ini semakna dengan penggunaan senjata api, bom, dan tank untuk melaksanakan perintah jihad, atau menggunkan pesawat terbang, kapal laut, dan unta untuk menjalankan perintah haji menuju Makkah. Semuanya mubah karena bermakna menggunakan alat yang telah dimubahkan secara umum dalam Al-Quran.

Adapun larangan berbuat bid’ah, maka yang dimaksud bid’ah bukanlah alat baru, bukan pula perbuatan baru, atau ilmu sains baru, atau ijtihad hukum syara, atau ilmu yang dirumuskan untuk memahami nash. Bid’ah adalah segala hal yang baru bertentangan dengan petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah. Semua petunjuk selain Quran dan Sunnah yang bertentangan dengannya, tidak terpancar darinya, dan tidak digali darinya maka itulah bid’ah baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun muamalah. Wallahu a’lam

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 135, 12 – 26 Jumadil Akhir 1433 H / 4 – 18 Mei 2012

Gambar : republika.co.id

ΩΩΩ

Silakan Baca Juga :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Ibadah, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hukum Adzan Memakai Pengeras Suara

  1. YKK says:

    Memang benar dari apa2 yg telah dijelaskan diatas, namun… masalahnya saat ini.. antara masjid2 sudah terjadi seperti saling berlomba “siapa yg bisa paling keras suara toa-nya”.

    padahal jarak antar satu masjid dengan masjid2 lainnya sudah bisa dikatakan hampir berdekatan (dng kata lain, hampir ada disetiap kelurahan), ….akhirnya suara yg ditimbulkan bisa sampai “hampir2 memekakkan telinga”.

    Setiap masjid, selalu saja meng-anggarkan dana untuk beli toa baru,…agar bisa lebih keras lagi,..dan lebih keras lagi suaranya,…dan jangan sampai kalah suara dgn masjid yang lain,…naah disinilah letak kesalahannya.
    :)

  2. sayed hasan says:

    kasak kusuk speaker masjid karena sudah didewakan.sehingga siapa yg menyebut keburukannya di difitnah (melarang azan /ngaji)dan difatwa sesat/perlu dibunuh.Nauzubilah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s