Aqiqah dan Kurban, Mana yang Didahulukan ?


Oleh : KH Ali Yafie

Menurut pandangan masyarakat di lingkungan tempat saya tinggal, ada yang beranggapan bahwa siapa yang ingin berkurban di Hari Raya Idul Adha, maka aqiqahlah terlebih dahulu baru kemudian berkurban. Benarkah pendapat tersebut ? Bagaimana hukumnya jika seseorang berniat berkurban tapi dia belum beraqiqah ?

Setiani, Bandung

Jawaban :

1.  Perlu diketahui   bahwa aqiqah itu berbeda dengan kurban. Keduanya tidak bisa disamakan. Aqiqah berkaitan dengan kelahiran seorang bayi. Jadi yang dikenai beban untuk melaksanakan sunnah tersebut adalah orangtuanya, sebagai uangkapan rasa syukur kepada Allah swt setelah mendapatkan momongan.

Rasulullah saw bersabda, “Anak yang baru lahir hendaknya diaqiqahi. Alirkanlah darah (sembelihan kambing) dan hilangkanlah kotoran serta penyakit yang menyertai anak tersebut ( cukurlah rambutnya )” ( HR Bukhari, Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi )

Ketentuan aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Disunnahkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke-7, sebagian menyebutkan hari ke-14 dan ada yang menyebut hari ke-21 dari kelahirannya.

Sementara berkurban berkaitan dengan hari raya Idul adha. Syariat berkurban ini dipertegas Al-Quran dalam kisah Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismail.

Para ulama fiqih menghukumi berkurban sebagai sunnah muakkadah, artinya sangat ditekankan agama kepada orang Muslim yang mampu. Adapun waktu pelaksanaan kurban adalah seusai melakukan shalat Idul Adha, 10 Dzulhijjah sampai terbenamnya matahari pada akhir hari tasyriq yaitu 13 Dzilhijjah. Jadi ada waktu selama empat hari untuk melaksanakannya.

2.   Baik aqiqah maupun berkurban hukumnya sunnah muakkadah ( sangat dianjurkan ). Namun demikian, hukumnya tidak sampai wajib, itu pendapat jumhur ulama ■

Sumber : Konsultasi Fiqih, Majalah Hidayah, Tahun 11 , Edisi 127, Maret 2012 / Rabi’ul Akhir – Jumadil Ula 1433 H

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Ali Yafie, Fiqih, Ibadah, Kurban and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Aqiqah dan Kurban, Mana yang Didahulukan ?

  1. Raffi says:

    Ass wr wb….
    Saya mau tanya gimana klo smpai dewasa si anak blm aqiqah,apakah masih bisa di lakukan aqiqah itu buat mereka yg sudah remaja atau dewasa tapi belum menikah?
    Trima kasih
    Wassallam

    ————————————————–

    Waalaikumussalam wr wb ,

    Aqiqah itu hukumnya sunnah muakkadah yang dibebankan kepada orangtua yang mempunyai anak yang baru lahir. Waktunya pada waktu bayi berusia 7 hari, 14 hari atau 21 hari.

    Kalau sudah dewasa kita berqurban, hukumnya juga sunnah muakkadah. Atau kalau mau aqiqah, tunggu saja sampai Anda punya momongan.

    Wassalam.

    • cak gimin says:

      ass….wr…wb….

      Imam Ahmad ditanya tentang masalah ini, ia menjawab, “Itu adalah kewajiban orang tua, artinya tidak wajib mengakikahi diri sendiri. Karena yang lebih sesuai sunah adalah dibebankan kepada orang lain (bapak). Sementara Imam Atha dan Hasan Al-Bashri mengatakan, “Dia boleh mengakikahi diri sendiri, karena akikah itu dianjurkan baginya, dan dia tergadaikan dengan akikahnya. Karena itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.”
      Dalam kitab Al-Masail karya Al-Maimuni, ia bertanya kepada Imam Ahmad, “Jika orang belum diakikahi, apakah boleh dia akikah untuk diri sendiri ketika dewasa?” Kemudian ia menyebutkan riwayat akikah untuk orang dewasa dan ia dhaifkan. Saya melihat bahwasanya Imam Ahmad menganggap baik, jika belum diakikahi waktu kecil agar melakukan akikah setelah dewasa. Imam Ahmad mengatakan, “Jika ada orang yang melaksanakannya, saya tidak membencinya.”

      maaf sebelumnya…akikah dan qurban adalah sunah yang sama2 dianjurkan, dan akikah dilakukan hanya 1 kali seumur hidup….sedangkan Qurban boleh tiap tahun bukan??? dan untuk apa kita menunggu untuk berakikah jika ada kesempatan rizqi???
      sekali lagi maaf…lebih baik kita dahulukan dulu akikahnya…..karena cuma 1x seumur hidup….dan setelah itu jika ada kelebihan rizqi lagi kita tunaikan Qurban setiap tahunnya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
      wassalam….

  2. indra j-thock says:

    kalau kita mau aqiqah tp pembagiannya pada saat pembagian kurban.terus niat kita beraqiqah bukan berkurban boleh apa tidak………..?

    ———————————————–

    Rasulullah SAW beraqiqah ketika bayinya berusia 7 hari, kalau anak Anda berusia tujuh hari pada hari Idul Adha atau hari tasyrik, berniatlah untuk aqiqah, karena kurban masih bisa Anda lakukan di tahun depan. Aqiqah dan kurban hukumnya sama yaitu sunnah muakkad.

    Tentang waktu beraqiqah, sebagian ulama membolehkan juga pada hari ke-14, atau hari ke-21, bahkan ada yang menyebutkan sampai sebelum si anak itu baligh.

  3. sientje sambas says:

    Saya belum mengaqikahkan anak2 saya yg sudah dewasa. Saya rasa saya juga belum diaqikahkan oleh orangtua saya. Mana yg sebaiknya saya dahulukan, pada saat sekarang , aqikah untuk anak atau untuk diri sendiri? Terima kasih

  4. heli nuroso says:

    adab aqikah adalah orang tua yg melahirkan anaknya, bgm seandainya org tuanya tidak mampu mengaqikahkan anaknya ? bisakah mengaqikahkan diri sendiri walaupun sudah dewasa ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s