Bertawasul


Oleh : Habib Lutfi bin Yahya

Habib Lutfi yang saya hormati, saya ingin bertanya. Berdoa dengan lantaran ( tawassul ) kepada orang saleh atau para nabi, apakah diperbolehkan dalam Islam ? Apakah hal ini juga termasuk perbuatan syirik ? Dan bukankah orang yang sudah mati tidak bisa menolong orang lain, karena menolong dirinya sendiri saja di alam barzakh kesulitan ?  M. Ulin Nuha, Rembang

Jawaban :

Rasulullah SAW sering berdoa, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mutawatir, “Allahuma inni asaluka bihaqqis saa’iliin” ( Ya Allah, aku mohon kepadamu dengan orang-orang yang ahli meminta kepadamu ). Ini termasuk kalimat tawassul.

Satuan bahasa “Ihdina” ( Tunjukkanlah kepada kami ) juga bisa mengandung tawassul, karena”Ihdina” tidak menunjukkan satu orang, tetapi juga termasuk orang yang telah mati, orang yang sedang sakit, atau orang yang tengah sekarat. Kalau arti “Ihdina” ini diperluas, ia bermakna “agar semua kaum Muslimin yang telah meninggal mendapatkan jalan yang lurus ( baik ), sedang yang masih hidup mendapatkan jalan kebaikan”. Dalam kalimat yang didahului “Ihdina” juga bisa termasuk kaum Muslimin maupun Muslimat, mukminin ataupun mukminat.

Pada zaman Nabi Musa, ketika terjadi peperangan, ada pengikut beliau yang bertwassul dengan Tabut ( kotak wasiat ). Di dalam tabut itu ternyata ada pakaian-pakaian para nabi zaman dahulu. Tabut tersebut bekas koak penyimpanan barang-barang milik para nabi, seperti tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dan serpihan Taurat yang robek ketika diletakkan oleh Nabi Musa.

Setiap Bani Israel membawa tabut, Bani Israel selalu memenangkan pertempuran dengan orang-orang yang memerangi mereka. Inilah yang dipakai bangsa Israel untuk bertawassul.

Tawassul itu menunjukkan kerendahan hati seseorang. Ini dilakukan orang yang banyak amalnya tapi menganggap amalnya di sisi Allah masih kurang dan masih banyak dosanya. Tawassul itu mendidik kita menghilangkan sifat egois. Meski kita banyak amalnya, kita tetap menggandeng orang yang saleh di sisi Allah. Bukan kita minta kepada orang tersebut, tetapi kita tetap minta kepada Allah dengan ditemani orang saleh itu.

Mari kita kembali kepada ajaran para ulama kita. Mengapa mereka menyandang sebutan “al-mukhlisun”, orang-orang yang ikhlas ? Mereka mampu mengamalkan perbuatan yang saleh tetapi tidak membanggakan diri bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan saleh, sebab apa yang mereka lakukan semata-mata karena anugerah Allah.

Kewajiban lainnya adalah mereka itu “abdullah”, hamba Allah, sehingga semata-mata mengabdi kepada-Nya. Dari sinilah kita berangkat belajar ikhlas. Selanjutnya, kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri kita jangan sering kita lalaikan. Kita harus introspeksi atau muhasabbah. Semua itu yang menyempurnakan adalah Allah. Tanpa petunjuk dan fadhilah-Nya, apa yang dilakukan manusia tidak ada artinya.

Kita bisa memiliki sesuatu karena kita diberi oleh Allah. Karena itulah, apa yang kita miliki kita kembalikan kepada-Nya, sebagai Yang Maha Pemberi. Kita perbanyak menggapai pahala dari Allah, semata-mata karena sifat ikhlas kita kepada Allah ■

Sumber : Konsultasi Spiritual, Majalah Al Kisah, No. 03 / Tahun IV/ 30 Januari – 12 Februari 2006 / 30 Zulhijjah – 13 Muharram 1427 H

Judul asli : Bagaimana Bertawasul

  • Habib Lutfi bin Yahya, Ketua Tariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Habib Lutfi bin Yahya, Ibadah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Bertawasul

  1. Jalmi Laip says:

    Apa yang ditanyakan Sdr. M. Ulin Nuha agaknya tidak dijawab dengan lengkap oleh Habib Lutfi bin Yahya. Tapi ada cerita yang menarik, yaitu tentang tabut (kotak wasiat) yang digunakan oleh umat Nabi Musa . Saya berharap ada pembaca yang bersedia untuk berbagi informasi di sini tentang hal tersebut.

    Untuk melengkapi jawababn Habib di atas, saya sajikan tulisan tentang Tawasul dari Ensiklopedi Aqidah Islam :

    Tawassul

    Kata tawassul terkait dengan kata washilah yang berarti penghubung atau penyambung. Kata ini terdapat dalam dua ayat, yaitu Q.S. 5/al-Maidah : 35 dan 17/al-Isra’ : 57.

    Dari dua ayat di atas dipahami bahwa tawassul atau washilah adalah suatu tindakan dalam bentuk doa kepada Tuhan melalui sesuatu yang dikasihi Tuhan.
    Terdapat beberapa bentuk tawassul yang dilakukan :

    1. Bertawassul dengan amal salih

    Bertawassul dengan amal salih adalah merupakan tawassul yang dibolehkan. Hal ini berdasarkan kepada sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Bukhari dalam kitabnya pada juz III halaman 37 – 38 tersebut sebagai berikut: “Ada tiga orang berjalan ke luar kota, ketika mereka dalam perjalanan tiba-tiba hujan turun. Untuk berlindung mereka masuk ke dalam gua yang ada pada sebuah bukit, ketika mereka sedang di dalam gua tiba-tiba sebuah batu besar menutupi pintu gua tersebut. Salah seorang di antara mereka berkata pada kawannya.’Berdoalah kepada Tuhan dengan berkat amal salih yang engkau perbuat’. Lalu salah seorang di antara mereka berdoa.’Ya Allah sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua, saya keluar untuk menggembala dan saya perah susu gembalaanku, lalu saya bawa susunya pulang, saya beri minum ibu bapakku, kemudian anak-anakku, familiku dan istriku dengan susu tersebut. Pada suatu hari saya terlambat pulang dan saya dapati ibu bapakku sedang tidur. Saya tidak mau mengagetkan mereka dengan membangunkannya, padahal anak-anak bertangisan meminta susu di bawah kakiku, begitulah saya tunggu sampai pagi. Ya Allah, kalau Engkau tahu bahwasanya saya melakukan itu karena semata-mata mengharapkan keridhaan-Mu, maka bukalah pintu gua ini sehingga kami dapat melihat langit. Pintu gua tersebut terbuka sepertiganya.

    Kemudian seorang lagi berkata, ‘Ya Allah kalau Engkau tahu bahwasanya aku mencintai seorang perempuan , anak dari pamanku, sebagaimana sangat cintanya seorang laki-laki kepada perempuan. Aku mendatanginya dan bermaksud hendak menzinahinya, ketika hal tersebut akan terjadi maka si perempuan berkata,”Takutlah kamu kepada Allah”, maka aku berdiri dan meninggalkannya. Jika Engkau ketahui aku berbuat yang demikian karena semata-mata mengharapkan keridhaan-Mu, maka bukalah pintu gua ini. Maka terbukalah pintu gua sepertiganya.

    Seorang lagi berkata, ‘Ya Allah aku pernah memperkerjakan orang dengan upah satu faraq beras. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, orang tersebut berkata,”Berikan upahku”. Namun, belum sempat aku memberikan upah tersebut kepadanya, orang tersebut telah menghilang. Beras tersebut aku tanam dan hasilnya aku belikan sapi yang kemudian berkembang biak. Beberapa saat setelah itu, orang tersebut kembali kepadaku dan berkata,”Jangan engkau mendzalimi hakku”. Aku berkata kepadanya,”Pergi engkau ke sapi dan anak-anaknya tersebut, ambillah semua itu”. “Engkau jangan mempermainkan aku”, katanya kepadaku. “Aku tidak sedang mempermainkanmu. Ambil sapi dan anak-anaknya itu,” orang itupun mengambil semua itu lalu pergi. Ya Allah jika Engkau ketahui bahwasanya aku perbuat yang demikian hanyalah mengharap keridhaan-Mu, maka bukakanlah pintu gua ini, lalu terbukalah pintu gua tersebut seluruhnya.

    2. Bertawassul kepada Nabi SAW

    Bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW, menurut ulama dibolehkan, didasarkan pada doa Umar bin al-Khattab yang berbunyi, “Ya Allah dengan kebenaran Nabi Muhammad janganlah engkau siksa mayat tersebut”.

    Kemudian dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitabnya juz I hlm. 128 , disebutkan, “Dari Anas bin Malik bahwasanya Umar ibn al-Khattab apabila terjadi kemarau ia minta hujan dengan ‘Abbas bin Abdul Mutalib, beliau berkata, ‘Ya Allah bahwasanya kami telah bertawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkanlah hujan”.
    Selain itu Nabi Muhammad adalah seorang yang ma’shum dan yang dapat memberi syafa’at kelak di hari kemudian.

    3. Bertawassul kepada Wali Allah

    Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan boleh tidaknya bertawassul dengan Wali Allah. Ulama syari’ah berpendapat bahwa bertawassul kepada Wali Allah tidak dibolehkan. Karena menurut mereka Wali Allah tersebut tidak berhak memberi syafa’at kepada manusia dan juga mereka itu tidak ma’shum dari kesalahan-kesalahan. Sementara para ulama thariqah membolehkan bertwassul dengan wali Allah, karena mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah, sehingga melalui perantaraan ( tawassul ) mereka Allah akan menerima doa.

    Berbeda dengan pendapat di atas Ibn Taimiyah menyatakan bahwa bertawassul merupakan pekerjaan syirik. Pendapat ini didasarkan pada surat az-Zumar ayat 3 : “Ketahuilah, bahwa agama yang bersih itu kepunyaan Allah, dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain Allah mengatakan, kami tidak menyembahnya, melainkan untuk mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”

    Berdasarkan ayat ini Ibn Taimiyah berpendapat bahwa orang Islam yang bertawassul, kepada orang hidup atau yang telah mati, kafir, yaitu mereka yang menyembah berhala agar mendekatkan mereka kepada Allah ■

    Sumber : Prof. Dr. H. Syahrin Harahap,MA. dan Dr. Hasan Bakti Nasution, M.Ag. ( eds. ), Ensiklopedi Aqidah Islam , Jakarta : Kencana, Cet.1,2003, hlm 433 – 435

  2. andi says:

    ulama yg melakukan tawasul dalam keterangan kitab yang laen sbg berikut:
    1. Sufyan bin Uyainah (198 H / 813 M)
    Sufyan bin Uyainah berkata: ada dua laki2 saleh yg dpt menurunkan hujan dg cara bertawassul dg mereka yaitu Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yadzibin jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. (kitab al-‘illal wa Ma’rifah al- Rijal juz I hal. 163-164 karya Ahmad bin Hanbal)
    2 Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)
    perkataan Abu Hanifah ketika berziarah ke Madinah dan berdiri di hadapan makam Rosulullah saw. yaitu:
    “Hai orang yg termulya di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dg ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu2nya harapan Abu Hanifah”
    (kitab al-Ziyaroh Nabawiyah hal. 56 karya Sayyid Muhammad al-Maliki)
    3. Imam Syafii (150-204 H/ 767-819 M)
    “Dari Ali bin Maimun beliau berkata: Aku telah mendengar Imam Syafii berkata: Aku selalu bertabarruk dg Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dg berziarah setiap hari. Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan sholat 2
    rokaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya,sehingga tdk lama kemudian hajatku segera terkabulkan” (kitab Tarikh al-Baghdad juz I
    hal. 123 dg sanad yg shohih, karya al-Hafidz Abi Bakr Ahmad bin Ali)
    4. Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ishaq al-Harby (198-285 H/813-898 M)
    Ibrahim al-Harby berkata: Makam Ma’ruf al- Karkhy adalah obat penawar yg sangat mujarab (maksudnya datanglah ke makam Ma’ruf al- Karkhy, sebab berdo’a di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan (Kitab Tarikh al-Islam hal.1494 karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman)

  3. andi says:

    Memang banyak pemahaman saudara- saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya. Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar. Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu). Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih. Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban
    dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/ bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”, jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib). Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508). Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini. Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi.., pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid.. Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.., yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas. Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat. Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : “Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan, nah.. bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup?, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni?? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

    Walloohu a’lam

    Sumber:

    http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=63&Itemid=11

  4. mulyanto says:

    met malam HABIB lUTfI yg sy hormati sy ingin tanya bolehkah umat islam bersandar pd hadist dr periwayatnya orang israeliyah makasih

  5. heldawati says:

    saya mau tanya apa bila sepasang suami istri bertengkar di tengah malam dan sang suami berteriak berkata talak 3 sebanyak 2x apakah itu sah dan apa kah boleh tiba tiba mereka rujuk di malam itu,,di karenakan sang suami khilaf berkata talak 3,,trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s