Basmalah dalam Al-Fatihah Saat Shalat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dalam shalat, pada rakaat pertama saya membaca doa iftitah, ta’awudz, dan basmalah, kemudian saya membaca al-Fatihah. Pada rakaat kedua, saya tidak membaca basmalah, tapi langsung membaca alhamdulillahi rabbil `alamin. Apakah cara bacaan al-Fatihah dalam shalat ini benar, Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Membaca basmalah ketika membaca al-Fatihah dalam shalat merupakan masalah ijtihadiyah yang telah menjadi perbedaan pendapat para ulama sejak zaman awal Islam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya riwayat hadis yang menceritakan tentang cara Nabi Muhammad SAW membaca al-Fatihah pada saat menunaikan shalat.

Perbedaan itu juga bermula pada beragamnya pandangan ulama mengenai apakah basmalah itu bagian dari al-Fatihah atau tidak. Berikut ini pendapat para ulama mazhab mengenai basmalah ketika membaca al-Fatihah dalam shalat. Mazhab Maliki berpendapat, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah juga bukan bagian dari Al-Quran dan penulisannya dalam Al-Quran hanyalah untuk tabaruk ( mengharapkan berkah ).

Maka, kita tidak boleh membaca basmalah waktu membaca al-Fatihah dalam shalat. Mereka berlandaskan hadis riwayat Anas bin Malik. Ia berkata, “Aku shalat di belakang Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Usman yang mengawali shalat dengan alhamdulillahirabbil’alamin dan mereka tidak membaca bismillahirrahmanirahim di awal bacaan maupun di akhirnya.“ ( HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim ).

Mazhab Hanafi berpendapat, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, melainkan ayat Al-Quran yang digunakan sebagai pemisah di antara dua surat. Dan, disunahkan untuk membaca basmalah dengan sirr ( suara lirih ) ketika membaca al-Fatihah untuk tabaruk. Dalam Mazhab Hambali ada dua riwayat, yang pertama berpendapat al-Basmalah bagian dari al-Fatihah, tapi hanya dibaca secara sirr dalam shalat.

Riwayat kedua menyatakan, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah sehingga tidak harus dibaca ketika shalat. Sedangkan, Mazhab Syafi’i berpendapat, basmalah adalah bagian dari al-Fatihah dan juga bagian dari surah-surah dalam Al-Quran, kecuali surah al-Taubah. Seseorang wajib membaca basmalah dengan jahr ( suara keras ) saat membaca al-Fatihah dalam shalat jahriyah karena ayat dari al-Fatihah.

Jadi, dapat kita ketahui, basmalah dalam membaca al-Fatihah adalah khilafiyah yang sudah dibahas ulama sejak dulu dan mereka belum sampai kepada kata sepakat yang dapat menghapuskan perbedaan pendapat tersebut.

Bagi mereka yang mengikuti pendapat bahwa wajib membaca basmalah ketika membaca al-Fatihah dan dia tidak membacanya serta tidak ingat kecuali setelah selesai maka dia harus mengulang shalatnya karena ia telah meninggalkan bagian dari rukun shalat menurut keyakinannya, yaitu bacaan al-Fatihah.

Bagi yang mengikuti pendapat bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah dan dia tidak membacanya maka shalatnya sah dan tidak perlu diganti dengan sujud sahwi. Sekarang, Anda yang menetapkan hendak mengambil pendapat mana yang paling Anda yakini. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin , 9 April 2012 / 17 Jumadil Awal 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Al-Quran, Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s