ASI Terminum Suami, Haramkah ?


Oleh : H M Taufik Q Hulaimi

Pak ustadz, saya seorang suami yang sudah menikah selama 5 th. Alhamdulillah sudah di karuniai 2 anak. Ada cerita yang sebenarnya pribadi, tapi sangat mengganggu. Hal ini sebenarnya sudah lama terjadi. Saya memberanikan diri bertanya kepada Ustadz, karena harus jelas masalahnya.

Begini pak Ustadz, ketika istri sedang masa menyusui pernah kami melakukan hubungan suami istri dan ketika sedang berhubungan itu tanpa sengaja ASI istri tertelan oleh saya. Dikarenakan kurang pahamnya saya tentang hal tersebut maka kejadian itu saya anggap hal yang biasa.

Tetapi kemarin, saya mendengar ceramah yang menyebutkan bahwa ASI istri adalah haram, karena mengakibatkan mahram. Wah saya jadi bingung bin takut mendengarnya. Bagaimana konsekuensi hukumnya mengingat dalam tradisi Islam dan hadits Rasul saw, ada sepasang kekasih yang hendak menikah, tapi dibatalkan karena terbukti memiliki ikatan saudara sepersusuan. Apakah hal ini juga berlaku bagi suami yang mengalir dalam darahnya, ASI istrinya. Mohon penjelasan. Jazaakal-Laahu ahsanul jazaa atas bantuannya.

Pertanyaannya:

1. Benarkah ASI istri kita haram hukumnya, karena bisa mengubah status akibat sesusuan?

2. Bagaimana dengan status pernikahan setelah kejadian tersebut karena belum tahu hukum tentang ASI?

3. Bagaimana status saya dan anak-anak

Terima kasih untuk jawaban ustadz, wasalam.

Rizky , Pondok Indah, Jakarta

Jawaban :

Para ulama sepakat bahwa bayi yang meminum ASI seorang perempuan yang bukan ibunya maka perempuan ini menjadi mahram bagi sang bayi. Ia tidak boleh menikahinya dan juga tidak boleh menikah dengan  anak perempuannya.  Allah berfirman: “Diharamkan atas kamu ( mengawini ) …….  ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan;…” . ( QS an Nisa [4] : 23 )

Namun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang lebih rinci dari masalah ini. Di antara hal yang diperselisihkan adalah:

  • Kadar ASI yang diminum, apakah ASI yang diminum ada batasan kadar minimalnya atau tidak?
  • Umur al-murdhi’, apakah ada batasan umur minimal bagi anak yang menyusu atau tidak?
  • Apakah terminumnya ASI oleh suami menjadikan istri mahram dan harus cerai?
  • Apabila ada batasan kadar minimal ASI yang diminum dan ada batasan minimal umur bagi yang menyusu maka terminumnya susu istri tidak menjadikan sang istri mahram dan tidak harus dicerai. Sebaliknya apabila tidak ada batasan kadar minimal ASI yang diminum dan tidak ada batasan minimal umur maka sang istri menjadi mahram dan harus bercerai.

Untuk menjawab masalah ini kita lihat pendapat ulama fiqih.

Batas Minimal ASI yang Diminum

Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad ( dalam satu riwayat ) berpendapat tidak ada batas minimal ASI yang diminum. Haram menikahi terjadi dengan sebab meminum ASI baik sedikit atau banyak, bahkan setetes ASI.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad ( riwayat yang lebih benar ) berpendapat bahwa batas minimal ASI yang diminum adalah 5 kali menyusui. Dihitung satu kali menyusui apabila bayi menyusu sampai kenyang.

Pendapat pertama tidak kuat, karena bertentangan dengan hadits yang secara tegas mengatakan “Satu atau dua isapan tidak menyebabkan haram” ( HR Muslim ). Juga bertentangan dengan hadits: ”menyusu ( yang menjadi sebab haram ) adalah yang masuk kedalam lambung ( seperti makanan )”.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Imam Syafi’i. Pendapat ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Sayyidah Aisyah ra. bahwa menyusui yang menyebabkan haram adalam lima kali menyusui.

Pendapat ini diperkuat oleh ayat yang menyebutkan “… ibu-ibumu yang menyusui kamu …”. Dalam ayat ini ada dua hal yang menyebabkan haram pernikahan. Pertama  hal keibuan. Kedua hal menyusui. Hal yang berkenaan dengan keibuan ( Umumah ) tidak tercapai kecuali dengan lima kali menyusui atau lebih. Sekali atau dua kali isap tidak mengandung makna keibuan.

Batas Minimal Umur al-murdhi’

Ayat Al-Quran menyatakan bahwa disana ada batas minimal umur al-murdhi.  Batas tersebut adalah dua tahun hijriyah.  Allah berfirman : “Diharamkan atas kamu (mengawini ) …. ibu-ibumu yang menyusui kamu”.  ( QS. An-Nisa [4] : 23 ).  Tidak akan disebut ibu kecuali kalau yang menyusu masih kecil.  Batasan kecil disini adalah dua tahun hijrah.  Allah berfirman:  ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan  ( QS al Baqarah [2] : 233 ).

Begitu pula  hadits Rasulullah saw menyatakan hal yang serupa. Antara lain hadits: ”tidak disebut menyusui kecuali sebelum umur dua tahun” ( HR. Ad-Daar Quthny ). Hadits lain: ”tidak ( disebut ) menyusui ( kalau terjadi ) setelah disapih.”

Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang suami bepergian bersama istrinya. Di perjalanan sang istri melahirkan. Namun bayi yang baru lahir tersebut tidak bisa menghisap ASI ibunya. Sang suami bersegera mengisap susu istrinya dan diberikan kepada bayi. Ketika mengisap ia merasakan rasa susu tersebut. Kemudian ia menceritakan hal tersebut kepada Abu Musa Al-Asyari. Abu Musa berkata : ”Istrimu haram bagimu”. Kemudia suami tersebut datang ke Ibnu Mas’ud. Beliau berkata kepada Abu Musa: ”Engkau yang berfatwa seperti ini?” Rasulullah bersabda: ”Tidak disebut menyusui kecuali yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.” ( HR Baihaqi dalam Buku As-Sunan Al-Kubro )

Namun disana ada hadits yang bertentangan dengan ayat dan hadis di atas. Yaitu hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra bahwa Sahlah binti Suhail datang kepada Rasulullah saw dan berkata:  “Wahai Rasulullah, saya melihat sesuatu di wajah Abu Huzaifah ( suami dari Sahlah Binti Suhail ) disebabkan masuknya Salim ( Salim sejak kecil hidup bersama Abu Huzaifah ). Rasulullah menjawab: ”kamu susui saja dia!” Sahlah menjawab: ”Bagaimana saya susui sedangkan dia sudah besar?” Rasulullah tersenyum dan berkata: ”Saya tahu bahwa dia sudah besar.” Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim. Juga Hadits yang mempunyai makna yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhori. Derajat hadis ini shahih.

Para Ulama mengambil jalan tengah dalam memahami hadits ini dengan menggabungkan dua makna dari hadits yang bertentangan ( al-jam’u ). Hadits tentang Sahlah binti Suhail ini difahami sebagai pengkhusussan bagi Salim saja. Tidak bisa digeneralisasi. Hal ini diperkuat dengan sikap istri-istri Rasulullah ( kecuali Aisyah)  yang menolak untuk mengubah status hukum orang-orang yang mereka butuhkan dengan cara menyusui.

Ibnu Taimiyah menggabungkan hadits-hadits ini dan berpendapat bahwa menyusui yang dapat menjadikan seseorang mahram adalah menyusui di waktu kecil. Kecuali apabila ada kebutuhan dan darurat seperti halnya Salim dan keluarga Abu Huzaifah. Dalam situasi seperti ini menyusui orang yang sudah baligh atau dewasa dapat menjadikannya mahram.

Terminumnya ASI oleh Suami tidak Membuatnya Menjadi Mahram

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terminumnya ASI istri tidak menjadikan istri mahram. Pernikahan tetap sah. Dan anak-anak tidak menjadi saudara sesusuan. Wallahu ‘Alam

Sumber : Konsultasi Agama, Majalah Islam Sabili, No. 8 Th. XIX  , 19 Januari 2012 / 25 Safar 1433 H

  • DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med, Direktur Ma’had Aly an-Nuaimy, Jakarta

 ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Fiqih, HM Taufik Q Hualimi, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s