Pembagian Waris


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saat ini di keluarga kami tengah dilakukan pembagian warisan hasil penjualan rumah orang tua yang baru terjual. Sebagai informasi, kami sekeluarga ada delapan orang (empat laki-laki dan empat perempuan). Kakak tertua laki-laki telah meninggal dunia.

Beliau meninggal setelah orang tua meninggal, namun masih ada ahli warisnya lengkap, tiga anak dan istri. Tiga orang di antara kami sempat pula berkontribusi atas perbaikan rumah tersebut yang selama ini ditinggali oleh beberapa ahli waris. Yang ingin saya tanyakan:

1. Hasil penjualan rumah tersebut setelah dikurangi biaya-biaya seperti pajak, notaris, zakat, infak dan sedekah ( ZIS ) serta lainnya, jika ingin dikeluarkan haknya ketiga saudara ini bagaimana cara perhitungannya bila tak ada data penunjang yang cukup jelas, khawatir mengurangi hak ahli waris lain?

2. Bagaimana dengan jatah yag diterima oleh kakak tertua kami yang telah meninggal, apakah tetap sama, yaitu 2/12 ?

3. Ada usulan dari salah seorang di antara kami, dengan pertimbangan tertentu untuk membagi rata saja hasil warisan itu, apakah bisa dibenarkan secara syariat, mengingat saya khawatir jangan sampai karena perkara ini ada hak-hak ahli waris lain yang terzalimi?

Mohon pendapat Ustadz. Terima kasih.

Abdullah

Jawaban :

Menerapkan syariat kewarisan Islam sesungguhnya akan menenteramkan almarhum dan para ahli warisnya. Sebaliknya jika meninggalkan maka akan menimbulkan fitnah dan kerusakan besar. ( QS al-Anfal: 73 ).

Selain membayarkan ZIS, notaris, dan pajak, selesaikan pula utang-piutang yang terkait harta waris itu, termasuk di dalamnya mengembalikan investasi tiga orang saudara yang telah ikut berkontribusi menambah nilai harta waris tersebut. Namun jika ketiga orang itu meridainya, itu lebih baik.

Anak tertua yang telah meninggal dunia berhak mendapatkan hak warisan yang akan dilimpahkan kepada ahli warisnya.

Pendapat untuk membagi rata saja adalah pendapat yang tidak benar dan bertentangan dengan syariat Allah dan rasul-Nya sehingga tidak dapat diterapkan.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak ( pula ) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ( yang lain ) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” ( QS al-Ahzab: 36 ).

Merujuk pada kasus di atas, ahli waris yang berhak mendapatkan hak waris adalah delapan anak ( empat anak laki-laki dan empat anak perempuan ), dengan rincian:

Adapun anak laki-laki tertua yang telah meninggal, bagiannya sebesar 2/12 diberikan kepada istri dan tiga anaknya. Dengan kadar bagian, yaitu untuk istri 1/8 dan sisanya untuk anak-anak. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 3 Oktober  2011 / 5 Dzulqaidah 1432 H

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s