Uang Duka


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Pak Ustadz, pada saat ayah saya sakit dan akhirnya meninggal dunia, kami menerima uang duka dari para kerabat dan kenalan. Setelah dikeluarkan untuk biaya pengurusan jenazah dan biaya-biaya lain, uang duka tersebut masih tersisa dalam jumlah yang tidak sedikit. Yang ingin saya tanyakan adalah: Apakah uang duka termasuk ke dalam harta warisan? Jika tidak, siapakah yang berhak atas uang duka tersebut?

Sunarto, Cengkareng

Jawaban :

Menjadi tradisi umat Islam Indonesia jika salah seorang meninggal dunia ada sebagian orang yang datang bertakziyah kepada keluarga almarhum dengan memberikan uang duka sebagai bentuk rasa simpati dengan tujuan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Uang duka tersebut bukan untuk almarhum sehingga tidak masuk dalam kategori harta waris. Karena yang disebut harta waris adalah hak penuh almarhum semasa hidupnya, sedangkan uang duka adalah akibat dari kedukaan sepeninggal almarhum dan tidak terkait langsung dengan usaha almarhum.

Penggunaannya ada dua kemungkinan: pertama, jika almarhum adalah orang mampu yang masih menyisakan harta waris setelah dibayarkan utang dan ditunaikannya wasiat serta zakat, status sisa uang duka dikembalikan kepada niat dan tujuan orang yang memberikannya, yaitu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan dan ungkapan rasa simpati. Dalam hal ini, sisa uang duka menjadi milik bersama seluruh keluarga yang ditinggalkan dan penggunaannya dimusyawarahkan antarkeluarga. Kedua, jika almarhum adalah orang tak mampu dan menyisakan beban atau utang yang belum ditunaikan, sisa dari biaya penyelenggaraan jenazah diutamakan untuk menunaikan kewajiban utang almarhum. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber :Konsultasi Agama, Republika, Senin, 21 November 2011/25 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Mencampur Kuburan Muslim dan Non-Muslim
  2. Membaca Al-Quran di Kuburan
  3. Memperlakukan Makam
  4.  Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati
  5. Membaca Yasin untuk Mayat
  6. Tuntunan Ziarah Kubur
  7.  Persamaan Alam Kubur dengan Kuburan
  8.  Jangan Terlalu Salahkan Diri Sendiri
  9. Wasiat  Menguburkan Mayat
  10. Membaca Al-Quran di Kuburan , Bolehkah ?
  11.  Masjid  di  Atas Kuburan
  12. Shalat Jenazah di Kuburan
  13. Hajatan  Kematian
  14. Mengurus Jenazah yang Terkena AIDS
  15. Orang  yang Berhak  Memandikan Jenazah
  16. Wanita Shalat Jenazah
  17.  Shalat Jenazah Berulang
  18.  Mati Bunuh Diri
  19.  Uang Duka
  20.  Mengubur Jenazah Malam Hari
  21. Membuka Tali Kafan
  22. Mengubur Jenazah di Laut
  23. Azan Ketika Penguburan Mayat
About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s