Memanjangkan Sujud Terakhir


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada sebagian ulama yang membolehkan membaca doa sewaktu sujud pada rakaat terakhir dengan pertimbangan pada saat sujud manusia dekat dengan Allah SWT. Namun, sebagian ulama melarang hal tersebut. Alasannya, hal itu akan menambah ritual baru dalam shalat. Bagaimana menyikapi masalah ini sesuai syariat, Ustadz?

La Ode, Tangerang

Jawaban :

Benar bahwa ketika sujud merupakan saat terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis Rasulullah, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.” ( HR Muslim dari Abu Hurairah ). Jadi, membaca doa saat sujud dibolehkan, bahkan dianjurkan sebab waktu itulah seorang hamba berada pada momen terdekat dengan Allah.

Riwayat lain juga menjelaskan hal ini. Ibnu Abbas menyatakan, Nabi bersabda, “Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun saat rukuk, agungkanlah Rabb Azza wa Jalla, sedangkan kala sujud berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa sehingga layak dikabulkan untukmu.” ( HR Muslim ).

Bahkan, para ulama berpendapat, doa yang berasal dari Al-Quran boleh dibaca waktu sujud selama diniatkan berdoa, bukan membaca Al-Quran. Ulama Syafi’iyah, al-Zarkasyi, berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Muhtaj, “Yang terlarang  jika dimaksudkan membaca Al-Quran, namun jika yang dimaksudkan adalah doa tidak apa-apa, seperti seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al-Quran.”

Sebagian imam sering kali hanya memperpanjang sujud terakhir ketika shalat karena memperbanyak doa. Para ulama berpendapat, memanjangkan sujud itu pada umumnya diperbolehkan, khususnya bagi yang shalat sendirian, tetapi mengkhususkannya pada sujud terakhir itu tidak ada dalilnya. Diriwayatkan, dalam amalan shalat Nabi Muhammad, semua gerakan shalatnya lamanya hampir sama.

Al-Barra` bin ‘Azib berkata mengenai shalat Rasulullah, “Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama ( lama dan tumaninahnya ).” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Untuk imam, sebaiknya tidak terlalu memanjangkan pelaksanaan rukun-rukun shalat mengingat kondisi makmum yang berbagai macam.

Hal ini sesuai anjuran Nabi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengimami orang banyak, maka hendaklan ia meringankannya karena di antara makmum itu ada yang lemah, sakit, dan sudah tua. Dan apabila ia shalat sendiri, maka hendaklah ia memanjangkan semaunya.” ( HR Malik, Bukhari, dan Muslim ).  Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 11 November 2011/15 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah, Shalat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s