Tawaf Wada


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, sebenarnya apa yang dimaksud dengan tawaf wada, tawaf qudum, dan tawaf ifadah itu?

Hendri Susilo, Padang

Jawaban :

Ada satu ibadah yang tidak bisa dilakukan di masjid mana pun selain Masjidil Haram, yakni ibadah tawaf.

Sedang tawaf itu sendiri ada berbagai macam dan ragamnya. Pertama, tawaf qudum, adalah tawaf yang diperintahkan bagi orang yang tiba di Kota Makkah dan mengerjakan haji ifrad. Kedua, tawaf ifadah, yakni tawaf yang menjadi salah satu rukun haji. Siapa yang tidak mengerjakannya, hajinya batal.

Ketiga, tawaf umrah, ialah tawaf yang dikerjakan saat seseorang mengerjakan umrah, baik umrah yang mustaqil ( independen ) maupun umrah yang dikerjakan saat berhaji. Keempat, tawaf sunah — tawaf yang bisa dikerjakan kapan pun di dalam Masjidil Haram. Ia menjadi pengganti tahiyatul masjid bagi Masjidil Haram. Dan kelima, tawaf wada atau tawaf perpisahan.

Setiap orang yang melakukan ibadah haji dan umrah diwajibkan bagi mereka untuk melakukan tawaf wada. Tawaf wada ini adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat mereka hendak meninggalkan kota suci Makkah. Tawaf wada hukumnya wajib dalam mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali, kecuali wanita yang haid dan penduduk Makkah.

Kewajiban melaksanakan tawaf wada ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, yang berkata: “Setiap manusia diperintahkan untuk menjadikan saat terakhirnya di Kota Makkah di sisi Baitullah ( Ka’bah ). Hanya saja, perintah ini tidak ditujukan bagi wanita haid.  ( HR Bukhari dan Muslim ).

Tawaf wada ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jamaah. Momen perpisahan dengan Baitullah ini membuat mereka larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah.

Seperti tawaf yang lain, tawaf wada terdiri atas tujuh putaran yang dilakukan mengelilingi Ka’bah ke arah kiri serta diawali dan disudahi di rukun hajar Aswad. Namun, perbedaannya adalah bahwa dalam tawaf wada tidak disunnahkan melakukan shalat sunah tawaf. Usai mengerjakan tawaf wada, setiap jamaah haji diizinkan untuk meninggalkan Baitullah dengan cara yang wajar tanpa harus berjalan mundur atau sambil menunduk.

Siapa yang tidak menjalani tawaf wada, ia wajib membayar dam sebesar satu ekor kambing, baik disengaja maupun bila terlupa.

Kambing tersebut disembelih di mana saja dan dibagikan kepada kaum fakir yang membutuhkan.

Tawaf wada ini hanya diwajibkan bagi jamaah haji yang tinggal di luar Kota Makkah. Adapun jamaah haji yang tinggal di Kota Makkah, mereka tidak berkewajiban melakukan tawaf wada dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar dam bila mereka tidak mengerjakannya. Wallahu a’lam ■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Selasa, 25 Oktober 2011/27 Dzulqaidah 1432

Gambar : http://www.onislam.net

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s